Jika tidak sanggup membahagiakan orang lain, maka minimal tak menyakitinya

Total Tayangan Halaman

Kamis, 19 Desember 2013

Urgensi Zakat



URGENSI ZAKAT



Ma’syiral muslimin rahimakumullah.
Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas karunia iman, kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat melaksanakan salat jumat di masjid yang mubarak ini. Semoga salawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi akhirul zaman, Muhammad Rasulullah saw yang telah berjuang tanpa pamrih mengantarkan manusia ke jalan yang benar dengan iman, islam dan ihsan.
Marilah dalam hidup ini kita selalu berusaha untuk bertakwa kepada Allah sekuat kemampuan kita dalam mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Ma’syiral muslimin rahima kumullah
Menurut al-Qur’an manusia memiliki dua potensi yang saling berlawanan serta berpengaruh terhadap kualitas keimanan seseorang, seperti diungkapkan dalam QS al-Syams: 8-10

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَاوَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا   
‘Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung-lah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.’
Potensi takwa atau potensi kebaikan didukung oleh daya qalbu dan potensi buruk didukung oleh daya nafsu. Daya qalbu bersumber dari Ruh Ilahi sedangkan daya nafsu bersumber anasir tanah.
Potensi takwa didukung oleh malaikat sedangkan potensi buruk didukung oleh setan. Menurut Muhammad Abduh bahwa setiap orang dapat merasakan adanya dua macam bisikan dalam jiwanya, bisikan baik dan bisikan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antara keduanya. Yang membisikkan kebaikan adalah malaikat, sedangkan yang membisikkan perbuatan dosa adalah setan. Atau setidaknya penyebab adanya bisikan itu adalah malaikat dan setan. Puasa Ramadan pada hakekatnya bertujuan untuk mengendalikan potensi keburukan dan melawan tipu daya setan, sekaligus memaksimal-kan potensi kebaikan dan bisikan malaikat ke dalam jiwa manusia.
Ma’syiral muslim rahimakumullah.
Puasa juga bertujuan mendidik kedisiplinan dan kesabaran kita. Sebab puasa membutuhkan kedisiplinan dan kesabaran yang tinggi. Karena itulah yang menjadi rukun puasa adalah meninggalkan makan, minum dan hubungan suami istri yang ketiganya itu merupakan kebutuhan pokok manusia. Godaan bagi orang yang berpuasa juga sangat besar. Sehingga tanpa kedisiplinan orang akan mudah tergoda untuk membatalkan puasanya sendiri. Karena itu Nabi saw bersabda: al-shiyam nisfu al-sabr (‘puasa itu separuh dari kesabaran).
  Artinya, separuh sabar dapat diperoleh melalui puasa, sedangkan separuh sabar yang lain dapat dilatih dari ibadah-ibadah selain puasa. Hidup ini adalah perjuangan dan perjuangan membutuhkan pengorbanan. Pengorban mencapai cita-cita sangat membutuhkan kesabaran. Kesabaran dibutuhkan dalam semua aspek kehidupan manusia, baik sabar dalam melakukan kebaikan, sabar menghindari kejahatan maupun sabar dalam menghadapi ujian.
Ma’syiral muslimin rahimakumullah
Kesemuanya itu akan mengantarkan terwujudnya tujuan utama puasa, yaitu mendidik sikap hidup orang bertakwa. Menurut Rasulullah saw orang yang berpuasa itu karena kecintaan dan keikhlasannya kepada Allah. Sehingga apapun yang diperintahkan Allah kepadanya, dia akan melaksanakannya dengan senang hati.
Takwa berarti wiqayah  atau melindungi diri dan menjauhi dari siksaan Allah. Bertakwa kepada Allah berarti mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhkan diri dari segala apa yang dilarang-Nya. Jika seseorang telah memasukkan nilai-nilai ketakwaan dalam dirinya dengan mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, maka dia telah berlindung dari murka Allah berupa azab neraka.
Itu berarti puasa mendidik orang mampu merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupannya. Orang yang berpuasa karena dorongan iman, tidak akan mau membatalkan puasanya walaupun merasa sangat kehausan di tengah panasnya matahari dan pada saat yang sama ada peluang untuk makan, minum serta tidak dilihat orang lain. Namun dia sadar, bahwa walaupun tidak ada orang lain yang melihatnya, namun Allah melihat perbuatannya itu. Kesadaran tersebut akan mewarnai hidupnya sehingga dia tidak tega melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, orang lain dan masyarakat luas. Sebaliknya puasa mengajarkan manusia untuk merasakan penderitaan orang-orang miskin, atau penderitaan orang lain yang lebih susah dari dirinya serta menolong kesusahan orang lain sesuai dengan kemampuannya.
Karena itu Allah mewajibkan kepada orang Islam yang memiliki harta yang telah cukup nishab dan haul setahun untuk mengeluarkan zakat harta, di samping zakat fitrah yang menjadi kewajiban setiap muslim menjelang idul fitri. Harta yang belum cukup nishabpun, akan lebih memiliki keberkahan jika dikeluarkan sebagian dalam bentuk sedekah atau infaq.
Mengeluarkan zakat, dan sedekah memang terkadang terasa berat karena ada dua penyakit yang menjakiti hati manusia berkaitan dengan harta, yakni bersifat serakah saat mengumpulkan harta, sehingga jika ybs tidak mampu mengendalikan diri akan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan harta sebanyak mungkin. Islam sangat menghargai kekayaan namun Islam mencela kekayaan yang diperoleh dengan cara yang bertentangan dengan syariat atau merugikan orang lain. Penyakit kedua berkaitan dengan harta adalah sifat kikir, pelit membelanjakan harta di jalan Allah. Dalam realitas banyak terjadi, orang rela menghambur-hamburkan hartanya untuk pesta-pesta namun sangat berat hatinya mengeluarkan zakat atau sedekah dari hartanya.
Padahal harta yang dikeluarkan di jalan Allah baik zakat maupun sedekah pada dasarnya tidak akan mengurangi jumlah harta yang dimiliki namun justru akan semakin menyuburkan hartanya. Allah yang Maha Kaya akan melipatkan gandakan jumlah harta yang dimanfaatkan untuk berbagai kebajikan hingga 700 kali lipat, sesuai janjinya dalam QS al-Baqarah: 261
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ
 ‘Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah sama dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai tumbuh 100 biji. Allah melipat gandakan (balasan) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.’
Ayat ini seharusnya menjadi sumber inspirasi bagi kita untuk selalu bersemangat mencari harta dengan tujuan untuk dinafkahkan di jalan Allah. Keyakinan semacam itu telah mendorong Abu Bakar as Sidiq rela menyumbangkan seluruh hartanya untuk keperluan jihad. Karena Abu Bakar yakin Allah yang Maha Kaya tidak akan membiarkan keluarganya dalam kemiskinan. Realitas juga menunjukkan, bahwa tidak ada orang kaya jatuh miskin karena dermawan namun yang sering terjadi adalah orang kaya jatuh miskin karena pelit, enggan membayar zakat hartanya dan memberi sedekah kepada orang yang kesulitan.
Ma’asyiral muslim rahima kumullah. Pelaksana ibadah Jumat yang berbahagia.
Balasan yang disediakan Allah kepada orang yang mengeluarkan zakat atau sedekah minimal 10 kali lipat. Sebab itu semakin banyak sedekah yang diberikan maka akan semakin banyak pula balasan yang diperoleh. Balasan Allah dalam kaitan ini ada dua, balasan dalam bentuk harta yang semakin bertambah dan pahala yang akan dinikmati di akherat. Untuk memperoleh kemurahan Allah tersebut, ke-ikhlasan saat mengeluarkan zakat disertai keyakinan kepada janji Allah sangatlah penting.
Selain itu harta yang dizakat atau disedekahkan haruslah harta yang halal, dan bukan harta yang diperoleh secara haram. Sebab menurut hadis Nabi saw: innallaha la yaqbalu sadaqatan min gulul (sesungguhnya Allah tidak akan menerima sedekah dari harta yang haram). Hal ini sejalan dengan makna zakat sebagai pembersih harta dari kemungkinan bercampur dengan hak-hak orang lain. Namun harta yang diperoleh secara haram mustahil bisa dibersihkan dengan zakat atau sedekah. Ibarat orang mandi, tujuannya adalah untuk membersihkan badannya, namun jika dia mandi dengan air selokan, maka badannya tidak akan bersih tapi justru akan semakin kotor.
Ma’asyiral muslimin rh.
Kita harus yakin bahwa Allah tidak akan mengurangi harta yang telah dizakatkan atau disedekahkan, malah Allah akan memberi lebih:
 وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ  
‘Dan apa saja harta halal dan baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dirugikan.’ (QS al-Baqarah: 272)
Balasan Allah itu sangat luas. Sedekah sebenarnya merupakan salah satu cara untuk menghindarkan manusia dari penyakit atau bala. Kedermawanan mendekatkan hati manusia, men-dekatkan kepada kebaikan dan mendekatkan kepada surga. Sedangkan kebakhilan menjauh-kan hati manusia, dekat kepada keburukan dan dekat kepada neraka.
Secara psikologis sebenarnya hati nurani manusia cinta kepada kebaikan dan merasa bahagia jika bisa membantu dan membahagiakan orang lain, baik melalui zakat maupun sedekah. Sebaliknya, jiwa manusia benci kepada keburukan dan merasa susah jika menahan hak orang lain lantaran enggan membayar zakat atau memberi sedekah. Namun hati nurani yang bersumber dari Ruh Ilahi itu bisa berubah menjadi gelap sehingga tidak bisa mengarahkan yang bersangkutan kepada kebaikan.
Dengan demikian puasa Ramadan ini merupakan latihan rohani dalam membangun ketangguhan pribadi, mengendalikan dorongan dari dalam, ketika suatu keinginan berubah menjadi sebuah tindakan agar menghasilkan suatu pemikiran dan langkah yang konsisten sesuai dengan suara hati yang bijaksana. Sedangkan prinsip zakat adalah memberi. Memberi kepada lingkungan sosial. Zakat merupakan suatu kehendak dasar dari hati nurani manusia. Puasa Ramadan dan zakat serta sedekah sama-sama sebagai upaya meneladani sifat Allah yang Maha Pemurah.
Zakat juga merupakan sarana membangun kesatuan dan persatuan umat. Orang-orang yang kurang mampu di kalangan kita yang mendapat zakat dan sedekah dengan sendirinya akan terhindar dari bujuk rayu pihak lain dengan iming-iming materi untuk memalingkan mereka kepada keyakinan agama lain. Sayidina Ali pernah mengingatkan kadal faqru an yakunal kufra (kemuskinan itu terkadang bisa menjerumuskan seseorang kepada kekufuran). Karena itu orang-orang Islam yang memiliki kelebihan harta berkewajiban menyelamatkan keyakinan saudara-saudara kita yang berkekurangan dengan cara membantu kesulitan ekonomi mereka.
Ini berarti zakat dan sedekah  dapat dimanfaat-kan untuk banyak hal yang bermanfaat untuk kepentingan umat baik dalam jangka pendek (untuk memenuhi kebutuhan makanan orang miskin maupun jangka panjang melalui pemberdayaan ekonomi mereka agar mereka dapat meningkatkan taraf hidupnya dan mampu memberi zakat dan sedekah kepada orang lain.
Demikianlah semoga khutbah jumat ini dapat bermanfaat bagi kita dalam menata kehidupan yang lebih baik, amin ya Rabbal ‘alamin.




                        
                       
Materi khutbah ini berasal dari beberapa referensi al:
- Wawasan al-Qur'an: M. Quraish Shihab
- Kepribadian dalam Psikologi Islam: Abdul Mujib
- dll



Catatan Tambahan:

Bagi yang berminat mendalami, mengkaji, meneliti atau mengadvokasi korban KDRT khususnya problematika Perlindungan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga Perspektif Hukum Pidana Indonesia dan Hukum Islam dapat membaca buku saya yang berjudul PROTECTION OF THE RIGHTS OF DOMESTIC VIOLENCE VICTIMS: In Indonesia Criminal Law and Islamic Law yang diterbitkan oleh LAP- Lambert Academic Publishing Jerman. Buku tersebut dapat dibeli toko buku online mitra Penerbit Lambert Academic Publishing Jerman dengan harga standar 74,90 Euro. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada laman berikut ini: http://www.morebooks.de/store/bookprice_offer/show?token=58128ac02eb5828663bd59fe736ca2a9941d106a&auth_token=d3d3LmxhcC1wdWJsaXNoaW5nLmNvbToyZWQxNTcyMDM5M2YwMDMzYzhkYjE2MjFiYmJjYjQ3Zg==&locale=gb
                                                 

Puasa Ramadan: Peningkatan Potensi Kecerdasan Manusia



Khutbah Idul Fitri
 
Puasa Ramadan dan Peningkatan Potensi 
Kecerdasan Manusia

Dr. La Jamaa, MHI



Allahu akbar 3x. Ma’asyiral muslimin Jama’ah salat idul fitri yang berbahagia.

Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas karunia iman, kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat melaksanakan salat idul fitri di masjid yang mubarak ini. Kita patut bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadan, dan menuntun kita memanfaatkan Ramadan dengan berbagai amal ibadah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Semoga salawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi akhirul zaman, Muhammad Rasulullah saw yang telah berjuang tanpa pamrih mengangkat harkat dan martabat manusia dengan cahaya Islam.


Marilah dalam hidup ini kita selalu berusaha untuk bertakwa kepada Allah sekuat kemampuan kita dalam mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Bulan Ramadan telah pergi meninggalkan kita, dan kita semua berharap semoga kita dapat bertemu kembali dengan Ramadan pada tahun depan, amin ya rabbal ‘alamin.

Bulan Ramadan adalah bulan mengasah dan mengasuh jiwa melalui puasa selama sebulan, dengan harapan umat Islam dapat kembali ke asal kejadiannya dan menemukan jati dirinya, kembali suci sebagaimana ketika dia baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar.

Dengan demikian idul fitri bermakna kembalinya umat Islam kepada eksistensi yang hakiki sebagai hamba Allah, kembali kepada kesadaran adanya pengawasan Allah serta merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya. Sehingga diamnya menjadi zikir, nafasnya menjadi tasbih, penglihatannya membawa rahmat, pikirannya selalu optimis serta hatinya menjadi doa dalam menjalani hidup dan kehidupan 11 bulan setelah Ramadan.

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Puasa merupakan ibadah pasif berupa menahan diri dari tiga macam kebutuhan penting manusia, yakni makan, minum dan hubungan biologis suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dengan tidak makan dan minum, seorang muslim yang berpuasa dilatih untuk memiliki kesadaran spiritual dalam meneladani sifat Allah yang tidak makan dan minum, bahkan kesadaran itu akan lebih sempurna jika yang berpuasa itu rela memberi makan kepada fakir miskin, karena al-Qur’an memperkenalkan Allah sebagai 
              فاطر السموات و الارض و هو يطعم ولا يطعم

‘Pencipta langit dan bumi, memberi makan dan tidak membutuhkan makanan.’ (QS al-An’am: 14)

Dengan tidak melakukan hubungan biologis suami istri, seseorang yang berpuasa meneladani sifat Allah yang ditegaskan dalam al-Qur’an sebagai:
انى يكون له ولد و لم تكن له صاحبة   

‘Tidak memiliki anak. Bagaimana Dia memiliki anak padahal Dia tidak memiliki pasangan’ (QS al-An’am: 101)

Walaupun hanya kedua sifat itu yang digarisbawahi oleh ketetapan puasa untuk diteladani, namun secara substansial, berpuasa seharusnya berakhir dengan terpantulnya semua sifat-sifat Allah, kecuali sifat Ketuhanan-Nya, dalam kepribadian seseorang, karena puasa pada akhirnya adalah upaya meneladani sifat-sifat Tuhan sesuai dengan kapasitas manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan di hadapan Allah Yang Mahasempurna.

Dengan sifat-Nya sebagai ar rahman (Pelimpah kasih sayang bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia ini), yang berpuasa melatih diri untuk saling berbagi kepada semua makhluk. Dengan sifat-Nya ar-rahim (Pelimpah rahmat di hari kiamat), yang berpuasa memberi kasih kepada saudara-saudara seiman sambil meyakini, bahwa  tiada kebahagiaan kecuali bila rahmat-Nya di hari akhir dapat diraih.

Dengan sifat al-Quddus (Maha suci), orang yang berpuasa dilatih untuk meyucikan dirinya lahir dan batin, serta mengembangkan diri untuk menghindari hal-hal yang mengotori jiwa, pikiran dan keyakinannya, seperti syirik dan sebagainya.

Dengan meneladani sifat Tuhan al-‘Afuwwun (Maha Pemaaf), seseorang yang berpuasa akan selalu bersedia memberi maaf dan menghapus bekas-bekas luka hatinya. Sedangkan dengan meneladani sifat al-Karim (Maha Pemurah), seseorang akan menjadi sangat dermawan yang dilandasi mencari reda Allah dan bukan kedermawanan semu, memberi sedikit untuk merampas hak-hak orang miskin secara zalim.

Dengan meneladani sifat Allah yang Maha Mengetahui, orang yang berpuasa hendaknya terus-menerus berupaya menambah ilmunya. Dalam upaya tersebut, dia dituntut agar dapat menggunakan secara maksimal semua potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya, baik pancaindera, akal maupun kalbunya, untuk meraih sebanyak mungkin ilmu yang bermanfaat, baik ilmu yang berkaitan dengan alam raya yang bersifat kasat mata, maupun ilmu yang bersifat non empiris, yang hanya dapat diraih dengan kesucian jiwa dan kejernihan kalbu yang mengantarkan kepada kecerdasan spiritual.

Dimensi spiritual akan mengantarkan manusia percaya kepada yang gaib. Kecerdasan spiritual yang diperoleh melalui puasa dapat memberikan kemampuan merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Kesadaran bahwa dirinya senantiasa berada dalam pengawasan Allah. Dia menyadari ada kamera Ilahiah yang terus menyoroti hati dan tindak tanduknya serta dicatat oleh Allah tanpa ada satupun yang tercecer. Kesadaran bahwa Allah senantiasa bersamanya (innallaha ma’ana), dan perasaan bahwa Allah menyaksikkan dirinya, merupakan bentuk fitrah manusia. Kondisi hati sedemikian itu akan mendatangkan ketenangan jiwa atau kebahagiaan yang menjadi dambaan semua manusia di dunia ini.

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Bulan Ramadan adalah bulan latihan mengendalikan hawa nafsu bagi umat Islam. Bahkan idealnya puasa yang telah dijalani sebulan lalu dapat mengantarkan kita untuk meninggalkan hawa nafsu menuju Tuhan. Allah sebenarnya dekat namun yang menjadi penghalang antara manusia dengan Allah adalah hawa nafsu dalam jiwanya. Dalam kaitan ini puasa bertujuan untuk mengendalikan diri dalam arti yang sangat luas, baik belenggu nafsu duniawi maupun nafsu batiniah yang tak seimbang. Sehingga dapat memaksimalkan fungsi God Spot. God Spot, ialah kejernihan hati dan pikiran manusia yang merupakan sumber suara hati yang senantiasa memberikan bimbingan dan informasi maha penting untuk keberhasilan dan kemajuan manusia. Karena itu pula maka puasa menurut Islam harus didahului dengan niat.

Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Allah menganugerahkan setiap manusia nafsu dan dorongan syahwat. Allah memperindah hal itu dalam diri setiap insan, sesuai firman-Nya dalam QS Ali Imran: 14
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
‘Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada aneka syahwat, yakni para wanita, anak, harta yang melimpah dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.’

Kecintaan inilah yang menjadi pendorong utama bagi semua aktivitas manusia. Namun setan dan nafsu seringkali diperindah hal-hal tersebut untuk melalaikannya dari tugas kekhalifahannya.

Jika seks diperindah oleh setan, maka ia akan dijadikan tujuan hidup. Sehingga apapun caranya dan dengan siapapun itu dilakukan, tidak dipersoalkan, cenderung kepada seks bebas. Kecintaan kepada anak jika diperindah setan, maka subjektivitas akan muncul, bahkan atas nama cinta, orangtua kerapkali memberi semua keinginan anaknya walau dengan melanggar dan merusak karakter anak itu sendiri. Dan jika harta diindahkan setan, maka manusia akan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya, menumpuk dan melupakan fungsi sosial hartanya. Jiwanya serakah di saat mencari harta dan muncul sifat kikir di saat memiliki harta, sehingga enggan berbagi kepada sesama. Namun terkadang mereka royal, bersikap boros membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan, seperti minum minuman keras, narkoba, main judi dan wanita.
Melalui puasa Ramadan, berbagai kecenderungan hawa nafsu yang negatif itu diharapkan dapat dikendalikan sehingga potensi kebaikan dalam jiwa akan meningkat dan potensi fujur menurun. Dalam QS asy Syams: 8-10 dijelaskan:
فألهمها فجورها و تقوها قد أفلح من زكاها و قدخاب من دساها
‘Dia (Allah) telah mengilhamkan kedalam jiwa manusia jalan kejahatan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa itu dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.

Kata fujur bermakna berpaling dari kebaikan atau melakukan kemaksiatan. Ayat di atas mengandung makna bahwa Allah memberikan potensi dan kemampuan kepada jiwa manusia untuk menelusuri jalan kedurhakaan dan ketakwaan. Dengan potensi ini, manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dia mampu mengarahkan dirinya menuju kebaikan atau menghindari keburukan dalam kadar yang sama.

Dalam diri manusia memang ada 3 kekuatan hawa nafsu yang mendorong manusia melakukan sesuatu, yakni: 1) Quwwatun Bahimiyyah, (kekuatan kebinatangan). 2) quwwatun sab’iyyah (kekuatan binatang buas, sehingga manusia terkadang suka menyerang orang lain, suka mengambil hak orang lain, suka menyakiti orang lain, dan 3) quwwatun syaithaniyyah, yang mendorong manusia untuk membenarkan segala kejahatan yang dilakukannya.

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Melalui puasa Ramadan diharapkan dapat diperoleh kecerdasan emosional. Dengan kecerdasan emosional manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan menghilangkannya sama sekali. Emosi dan nafsu yang terkendali sangat dibutuhkan mendorong terlaksananya tugas memakmurkan bumi sesuai dengan kehendak dan tuntunan Ilahi. Untuk itulah Allah memberikan quwwatun rabbaniyyah, kekuatan Tuhan dalam jiwa manusia, yang berasal dari percikan cahaya Tuhan yang terletak pada akal sehat atau hati nurani manusia.

Puasa Ramadan pada hakikatnya merupakan peluang umat Islam memperbaharui, dan menyegarkan kembali dominasi kekuatan Tuhan, sekaligus menekan kekuatan hawa nafsu dalam jiwanya. Sehingga hidupnya dapat lebih bermakna dan meraih predikat orang mampu mengelola emosinya yang mengantarkannya meraih kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional mendorong lahirnya ketabahan dan kesabaran menghadapi segala tantangan dan ujian. Pemahaman ini didasarkan kepada sabda Nabi saw: al-shiyam nisfu al-sabr (‘puasa itu separuh dari kesabaran).

Kecerdasan emosional mengantarkan seseorang tak berbicara atau bertindak kecuali sesuai dengan tuntunan akal, moral, dan agama. Dia berbicara dan bertindak pada saat diperlukan dan dengan kadar yang diperlukan, serta pada waktu dan tempat yang tepat. Kecerdasan emosional mengantarkan Nabi saw bersama para sahabat menggunakan emosi amarah dan tampil berperang di Badar pada tanggal 17 Ramadan 2 H.

Ada sebuah kisah, seorang ibu yang cerdas secara emosional suatu hari sibuk mempersiapkan jamuan makan yang diadakan sang suami. Sebelum para tamu  datang, tiba-tiba anaknya datang menaburkan debu di atas makanan yang tersaji. Setelah melihat hal itu ibunya sontak marah dan berkata: “idzhab ja’alaka llahu imaman lil haramain, pergilah kamu… Biar kamu jadi imam di Haramain.” Ternyata ucapan kemarahan sang ibu menjadi doa yang mengantarkan anaknya menjadi imam Masjid Haram yang saat ini dikenal dengan Syekh Abdurrahman as-Sudais.

Kecerdasan emosional melahirkan keseimbangan yang pada gilirannya dapat menjadikannya berpikir logis, objektif. Sehingga puasa pada gilirannya dapat meningkatkan kecerdasan intelektual. Pengetahuan adalah nur (cahaya) yang dicampakkan Allah ke dalam hati siapa yang mempersiapkan diri untuk meraihnya. Sebab puasa dapat merangsang syaraf-syaraf kecerdasan untuk berpikir aktif, dinamis dan konstruktif. Karena itulah para ulama selalu berpuasa untuk meningkatkan kecerdasan.

Kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang diperoleh melalui puasa tsb sangat dibutuhkan manusia dalam menjalani lalu lintas kehidupan ini.

Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah

Semoga puasa Ramadan yang telah dijalani sebulan penuh dapat menuntun kita selalu berpikir positif dan berprasangka baik terhadap Tuhan dan sesama manusia sehingga hidup dengan penuh optimis dalam menatap masa depan. Baginya hidup ini akan terasa indah dan nyaman jika tiada dendam dengan sesama. Suasana idul fitri saat ini merupakan momen penting untuk saling memaafkan.

Demikianlah semoga khutbah ini dapat bermanfaat bagi kita dalam menata kehidupan yang lebih baik di hari esok dengan semangat kembali kepada fitrah dan ampunan Allah. Mohon maaf lahir dan batin. Taqabballahu minna wa minkum taqabbal ya karim. Amin ya rabbal ‘alamin.


Materi khutbah ini bersumber dari beberapa referensi al:
- Lentera Hati: M. Quraish Shihab
- Renungan Tasawuf: Jalaluddin Rakhmat
- Kepribadian dalam Psikologi Islam: Abdul Mujib






                        

                       




                                                 

Rabu, 18 Desember 2013

Etos Kerja



Khutbah Jumat
ETOS KERJA

Dr. La Jamaa, MHI



Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas taufik dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat melaksanakan salat jumat di masjid yang mubarak ini. Semoga salawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi akhirul zaman, Muhammad Rasulullah saw yang telah berjuang tanpa pamrih mengantarkan manusia ke jalan yang benar dengan iman, islam dan ihsan.

Marilah dalam hidup ini kita selalu berusaha untuk bertakwa kepada Allah sekuat kemampuan kita dalam mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Pada dasarnya Islam adalah agama yang menempatkan amal saleh atau etos kerja sebagai bagian terpenting dari totalitas ajaran Islam. Banyak ayat al-Qur’an yang menggandengkan ungkapan orang-orang beriman dengan amal shaleh ( و عملواالصالحات  الذين امنوا)

Ini berarti etos kerja merupakan amal shaleh. Dengan kata lain amal shaleh dalam pandangan Islam pada hakekatnya bukan saja ibadah mahdah atau ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Namun amal shaleh atau ibadah menurut Ibn Taimiyah adalah meliputi semua aktivitas yang dilakukan dengan niat atau motivasi untuk meraih redha Allah. Dengan demikian kerja apapun yang dilakukan seorang muslim yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya adalah kerja ibadah atau amal shaleh. Aktivitas bekerja mencari nafkah, merupakan sarana untuk meningkatkan amal shaleh yang bersifat sosial sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat pada umumnya. Karena harta yang diperoleh dalam bekerja yang halal dapat dimanfaatkan untuk bersedekah, zakat dan infak serta aktivitas sosial lainnya. Harta yang sedemikian itu secara psikologis akan memberikan kebahagiaan bukan saja di akherat namun juga dapat memberikan rasa bahagia bagi pemiliknya di dunia. Sebab kebahagiaan yang dirasakan orang-orang yang dibantunya akan memantul pula ke dalam lubuk hati si pemilik harta.

Hal itu sejalan dengan perintah Allah agar kita tidak hanya mampu meraih kebahagiaan hidup di akherat saja, namun sedapat mungkin juga kita dapat meraih kebahagiaan hidup di dunia ini, seperti dijelaskan dalam QS al-Qashash: 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
‘Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) akherat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguh-nya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’

Ma’asyiral muslimin rh.

Ayat di atas menunjukkan bahwa Islam mengajarkan prinsip hidup keseimbangan antara upaya meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akherat, antara ibadah ritual dan ibadah sosial, antara iman dan amal shaleh, antara zikir, dan fikir.

Kerja keras dalam bidang apa pun sesuai dengan keterampilan tiap-tiap orang adalah kunci sukses dalam hidup ini. Islam sangat mencela orang yang bersifat malas dan masa bodoh. Khalifah Umar pernah menegur seorang sahabat yang selalu berdoa namun tidak mau bekerja, bahwa “janganlah seorang dari kalian duduk dan malas mencari rezeki padahal dia mengetahui langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.”

Begitu pula sayidina Ali pernah menegaskan “Tuhan tidak akan pernah menurunkan Tangan bantuan-Nya kepada kami sebelum Dia melihat kami bersusah payah dalam mujahadah (berjuang).” Makna mujahada di sini bukan hanya kerja-kerja fisik, tetapi juga kerja spiritual dan intelektual. Karenanya, pengertian doapun bukan hanya olah batin, melainkan juga olah otot dan olah nalar. Jelasnya, doa adalah gabungan antara ikhtiar, usaha dan tawakal seorang hamba dalam memaknai titian takdirnya. Sebab, setiap kerja yang baik akan selalu menjadi doa yang tulus, dan setiap doa yang tulus akan selalu menjadi kerja yang baik bagi manusia.

Meskipun bekerja mencari harta sangat penting dalam ajaran Islam, namun demikian umat Islam tidak boleh menghalalkan segala macam cara untuk men-dapatkan kebutuhan hidupnya. Islam merupakan agama yang sarat dengan nilai etika dan norma atau akhlak, sehingga dalam bekerja pun, umat Islam harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral. Etika kerja Islami adalah mencari harta dilakukan dengan cara-cara yang benar, tanpa melanggar ketentuan syariat, dan diniatkan untuk meraih kebajikan serta dimanfaatkan untuk kebaikan pula.

Ma’asyiral muslimin rh, pelaksana ibadah jumat yang berbahagia.

Kerja yang Islami adalah bekerja untuk mencari rezeki yang halal dan diinfakkan pada jalan yang halal pula sehingga harta tersebut dapat menjadi wasilah untuk meraih kebahagian hidup dunia dan akherat. Sebaliknya, kerja tidak Islami, adalah bekerja mencari rezeki dengan cara yang melanggar ketentuan syariat (cara-cara yang haram) dan biasanya dihambur-hamburkan untuk kegiatan yang haram pula. Dalam realitas kehidupan banyak orang kaya dari uang panas biasanya digunakan untuk judi, mabuk-mabukan dan kemaksiatan lainnya. Sehingga orang tersebut sepintas tampak hidup bahagia, namun yang bersangkutan justru merasa hidup menderita, dan pelariannya bukan beribadah dan berzikir mengingat Allah, namun lari kepada miras dan narkoba. Harta yang diperoleh dengan cara-cara yang haram akan menjadi sumber penderitaan di dunia dan akherat.

Ma’asyiral muslimin rh.

Sebagai tuntunan dalam bekerja mencari rezeki, Nabi saw memberikan arahan dalam sebuah sabdanya: “sesungguhnya Jibril meniupkan ke dalam hatiku bahwanya jiwa itu tidaklah mati hingga dilengkapi rezekinya. Maka, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan berlaku baiklah dalam mencari rezeki. Janganlah karena keterlambatan rezeki itu menjadikan kalian mencarinya dengan melakukan maksiat kepada Allah. Sesungguhnya tidak akan dicapai apa yang terdapat di sisi Allah, melainkan taat kepada-Nya (HR Hakim).

Untuk kondisi saat ini pedagang yang menghalalkan cara akan menimbun barang untuk dijual pada saat harga barang naik seiring dengan rencana kenaikan harga BBM. Bahkan meskipun kenaikan harga BBM masih ditunda, namun para pedagang sudah ramai-ramai menaikkan harga barang dagangannya. Menaikan harga barang dagangan sebenarnya adalah wajar sesuai mekanisme pasar, namun menjadi tidak wajar bagi pedagang yang menimbun barang untuk dijual pada saat harga barang naik, yang dikenal dengan ihtikar dalam Islam. Tindakan menimbun barang yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat seperti sembako, dan BBM merupakan perbuatan haram karena sangat merugikan masyarakat. Penimbunan barang untuk mendapatkan keuntungan besar sama artinya bersenang-senang di atas penderitaan orang banyak.

Ma’asyiral muslimin rh, jamaah jumat yang berbahagia

Dalam setiap kerja disyaratkan (1) kita tidak merugikan orang lain, (2) saling meredlai, saling memberi manfaat, (3) dilakukan bukan secara haram, (4) tidak mengandung unsur penipuan, (5) saling meningkatkan kesejahteraan, dan (6) tidak merusak lingkungan kerja serta tidak maksiat kepada Allah.

Di samping itu etos kerja Islami juga tidak terlepas dari 3 hal, yaitu niat, cara dan tujuan. Dalam Islam kita dianjurkan untuk mengerjakan sesuatu dengan niat untuk mendapatkan redla Allah. Dengan niat seperti itu, berarti kita telah memberi makna yang lebih tinggi dan mendalam kepada pekerjaan kita. Suatu pekerjaan yang dilakukan tanpa tujuan luhur, untuk memperoleh redla Allah bagaikan bayang-bayang yang hampa tanpa wujud, tidak punya nilai substansial apa-apa. Firman Allah dalam QS an-Nur: 39
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

‘Orang-orang kafir itu, amal perbuatannya bagaikan fatamorgana di lembah padang pasir. Orang yang kehausan mengiranya air, namun ketika didatangi, ia tidak mendapatkannya sebagai sesuatu apapun.’

Ma’asyiral muslimin rh

Dengan niat yang ditujukan kepada Allah, kita tidak akan melakukan pekerjaan kita secara asal-asalan, namun dilakukan secara sungguh-sungguh dan teliti karena kita bertanggungjawab kepada-Nya. Dengan demikian etos kerja mengandung makna ganda, yakni sebagai sarana ibadah kepada Allah dan sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Dalam kaitan ini etos kerja merupakan manifestasi keyakinan seorang muslim bahwa kerja memiliki kaitan dengan tujuan hidup yaitu memperoleh keredhaan Allah. Dengan kata, etos kerja dalam Islam adalah cara pandang yang diyakini seorang muslim bahwa bekerja bukan hanya memuliakan dirinya sendiri, atau mewujudkan kemanusiaannya, melainkan sebagai manifestasi amal saleh (karya produktif) yang karenanya memiliki nilai ibadah yang sangat luhur.

Penghargaan hasil kerja dalam Islam, kurang lebih setara dengan iman, bahkan bekerja dapat dijadikan jaminan atas ampunan dosa seperti sabda Nabi saw:





“Barangsiapa yang di waktu sorenya  merasakan kelelahan karena bekerja, bekerja dengan tangannya sendiri maka di sorenya itulah diampuni dosa-dosanya.”

Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Mencari nafkah yang halal untuk memenuhi kebutuhan hidup bukan hanya bernilai ibadah, melainkan merupakan bagian dari kewajiban keagamaan sehingga orang-orang yang enggan dan malas mencari nafkah berakibat menelantarkan orang-orang yang berada dalam tanggungan serta berdosa. Jelasnya, suami wajib bekerja untuk memenuhi nafkah anak istrinya secara layak sesuai perintah Allah dalam QS al-Baqarah: 233                      
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ 
Kewajiban bagi seorang ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang layak.’
Demikianlah semoga khutbah ini dapat menuntun kita dalam bekerja secara islami, sehingga kerja kita menjadi amal shaleh, sehingga kita dapat lolos dari 2 pertanyaan malaikat tentang harta yang kita miliki, yakni fi ayna iktasabahu, dari mana diperoleh, wa fi aina anfaqahu, dan digunakan untuk apa. Semoga kerja kita  senantiasa mendapat keberkahan dari Allah, amin ya Rabbal ‘alamin.



                        

                       
Materi khutbah ini bersumber dari beberapa referensi al:
Etos Kerja Islami: KH Toto Tasmara, dll.