Khutbah Jumat
PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN
ANAK DAN GENERASI MUDA
Dr. La Jamaa, MHI
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Jama’ah salat
jumat yang berbahagia.
Alhamdulillah kita
panjatkan ke hadirat Allah swt atas karunia iman, kesehatan dan kesempatan
sehingga kita dapat melaksanakan salat jumat di masjid yang mubarak ini. Semoga
salawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi akhirul
zaman, Muhammad Rasulullah saw yang telah berjuang tanpa pamrih mengantarkan
manusia ke jalan yang benar dengan iman, Islam dan ihsan.
Marilah dalam hidup ini
kita selalu berusaha untuk bertakwa kepada Allah sekuat kemampuan kita dalam
mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Jama’ah salat
jumat yang berbahagia.
Kehadiran anak
ditengah-tengah keluarga akan mengantarkan jalinan kasih sayang di antara suami
istri akan semakin kuat. Tidak sedikit pasangan suami istri yang berpisah di
tengah jalan, kemudian tersambung kembali lantaran masing-masing teringat
kepada anak mereka. Anak memang merupakan sumber kebahagiaan keluarga, buah
hati yang memperkuat kehangatan kasih sayang kedua orang tuanya dan mampu
membahagiakan semua sanak keluarga. Anak laksana wewangian surga yang
menyemarakkan suasana kebahagiaan sebuah keluarga.
Menurut Islam, di samping
menjadi nikmat dan sumber kebahagiaan, anak dapat menjadi fitnah bagi orang
tuanya jika tidak mampu merawat, mengasuh, mem-bimbing dan mendidiknya dengan
benar. Firman Allah:
Karena itu Orang tua
harus sadar, bahwa anak adalah amanat Allah yang dipercayakan kepada orang tua,
untuk dididik dengan baik dan benar, agar dapat tumbuh dewasa menjadi generasi
yang saleh dan mampu meraih kebahagian hidup dunia akherat.
Ma’asyiral muslim rh.
Untuk mencetak generasi
pelanjut yang baik di masa depan, ada beberapa peran strategis yang bisa
dilakukan oleh orang tua dalam pendidikan keluarga, yaitu:
1)
Orang tua seharusnya bisa tampil sebagai pendidik dan suri teladan bagi
anak-anaknya. Metode pendidikan yang efektif dalam lingkungan keluarga ialah melalui
contoh dan pembiasaan ibadah salat dan puasa, serta amal kebajikan lainnya.
Dengan melihat orang tuanya melakukannya secara rutin dan konsisten, anak akan
mudah melakukannya setelah ia dewasa. Sebab anak pada dasarnya suka meniru apa
yang sering dilihat dan didengarnya.
2)
Orang tua sebagai pemberi motivasi. Untuk itu orang tua perlu memberi motivasi
kepada anak-anaknya guna mempertajam kepekaan sang anak terhadap kebesaran
Allah, dengan memahami fenomena alam sekitanrnya sehingga anak akan menyadari kebesaran
Allah swt.
Untuk menumbuhkan motivasi anak dalam
beribadah, mempelajari dan mensyukuri ciptaan Allah yang terhampar luas di
bumi, memang paling efektif dilakukan oleh keluarga.
3)
Sebagai fasilitator. Keluarga diharapkan mem-fasilitasi perkembangan
anak-anaknya dengan ber-bagai kelengkapan sesuai kebutuhan anak. Misalnya
dengan menyediakan sumber-sumber informasi pengetahuan berupa buku, majalah, surat kabar, kaset dsb.
Atau menyekolahkan mereka pada lembaga-lembaga pendidikan serta mengikutsertakan
mereka dalam kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan yang dinilai akan berguna
bagi anak baik dari aspek intelektual, emosional, kepribadian maupun spiritual
keberagama-annya.
4)
Orang tua bertindak sebagai penyaring informasi bagi anak-anaknya. Penyaringan
informasi memang sangat dibutuhkan sehingga kita dapat membuat pilihan
informasi yang terbaik untuk anak dan keluarga kita, dengan memilih sekolah
yang tepat, buku bacaan yang sesuai dan program televisi yang lebih mendidik
bagi perkembangan mental anak.
Selaras dengan hal ini QS al-Zumar: 17-18
menjelaskan:
‘Sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hambaKu yang mendengarkan perkata-an lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.’
Ma’asyiral muslimin rh.
Orang tua yang baik
adalah orang tua yang mampu menyiapkan anak-anaknya sebagai generasi
pelanjutnya pada setiap saat. Setiap muslim berkewajiban menyiapkan generasi
penerusnya untuk menjadi generasi muslim yang saleh yang berguna bagi keluarga,
agama, nusa dan bangsa. Bahkan anak adalah pelestari pahala. Anak yang berhasil
dididik menjadi anak saleh akan melestarikan pahala bagi kedua orang tuanya
walaupun orang tuanya telah meninggal dunia. Nabi saw bersabda: iza mata bnu
adama inqatha’a ‘amaluhu illa min tsalatsi: shadaqatin jariyah, aw ‘ilmin
yanthafa’u bih, aw waladin shalih yad’u lahu (jika manusia telah meninggal,
maka putuslah amalnya kecuali 3 perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya). Ini berarti jika anak
gagal dididik menjadi generasi yang saleh, maka siksaan akan mengalir pula
meskipun orang tuanya telah meninggal dunia.
Dengan demikian, baik
buruknya akhlak anak sangat ditentukan oleh pendidikan orang tua terhadap
anaknya terutama pendidikan dalam keluarga. Dalam kaitan ini Rasulullah saw
bersabda:
ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن
‘Tidak ada pemberian orang
tua kepada anaknya yang lebih utama daripada budi pekerti yang baik.’ (HR Al Hakim)
Karena dari budi pekerti yang baik itu diharapkan
terjalinnya suatu hubungan yang baik dan harmonis antara manusia dengan
Tuhannya, antara manusia dengan keluarganya, masyarakat dan makhluk lainnya.
Dengan demikian seorang
muslim yang baik adalah orang Islam yang menjadi contoh teladan bagi generasi
penerusnya. Dia dapat tampil sebagai orang tua yang menjadi panutan bagi
anak-anaknya dalam kebaikan dan bukan panutan dalam kemungkaran. Orang tua
harus agung di mata anak keturunannya dalam berbagai aspek kehidupannya.
Rasulullah saw bersabda:
خير شبا بكم من تشبه
بكهو لكم و شر كهو لكم من تشبه بشبا
بكم
‘Sebaik-baik pemuda muslim
ialah pemuda yang menyerupai orang-orang tua mereka (dalam kebaikan) dan
sejahat-jahat orang tua di antaramu adalah orang tu yang menyerupai kelakuan
anak-anak muda (dalam kecenderung-an kepada kemungkaran).’ (HR Tabrani dan
Baihaqi)
Ma’asyiral muslim rahimakumullah.
Dalam hadis
ini Nabi saw menganggap pemuda yang menyerupai orang tua mereka dalam kebaikan
sebagai pemuda yang paling baik. Yang dimaksud pemuda di sini ialah pemuda
muslim yang cenderung kepada kegiatan-kegiatan yang bernilai kebajikan dan
kemaslahatan atau bernilai ibadah baik dalam hubungan dengan Allah maupun
hubungan dengan sesama manusia.
Penghargaan Nabi saw
kepada para pemuda muslim tersebut pada hakekatnya merupakan respon terhadap
kebiasaan umum para pemuda yang biasanya menghabiskan masa mudanya untuk
hura-hura dan foya.
Fenomena yang umum
terjadi adalah identiknya anak muda dengan berbagai aktivitas yang tidak
bermanfaat bahkan merugikan dirinya sendiri dan masyarakatnya seperti yang
telah menjadi trend saat ini berupa minuman keras dan narkoba.
Dalam
hadis lain Rasulullah saw bersabda:
ليس منا من لم يرحم صغير نا و من لم يعرف حق
كبيرنا
‘Bukanlah golongan kami
orang yang tidak menyayangi anak-anak muda dan tidak tahu hak orang-orang tua.’
Hadis ini
menunjukkan bahwa dari orang tua diharapkan kasih sayng untuk anak-anaknya dan
dari orang muda diharapkan pengertian baik terhadap hak-hak orang tua mereka.
Kasih sayang untuk mengantarkan mereka yang muda usia menjadi generasi harapan
umat. Untuk mengantar mereka menjadi pribadi utama dan manusia utama. Sehingga
setiap saat siap mengemban tugas agama,
bangsa dan negara.
Sebaliknya
dari orang-orang muda diharapkan pengertian terhadap hak-hak orang tua sebagai
pembimbing mereka dan cermin kehidupan masa lalu untuk diteladani nilai-nilai
luhurnya. Darinya diharapkan lahirnya suatu generasi yag berdiri pada landasan:
al-muhaafazhatu bil qadimis
shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (berpegang
teguh kepada nilai-nilai lama yang baik dan luhur sambil tampil mengambil
nilai-nilai baru yang lebih baik).
Dari sana diharapkan kuatnya
tradisi dan nilai-nilai budaya lama yang bernuansa Islami serta lahirnya
nilai-nilai baru dan modern sesuai dengan tuntutan zaman yang bernuansa Islami
pula.
Jama'ah jumat yang berbahagia.
Generasi
harapan seperti inilah yang didambakan oleh semua orang tua. Suatu generasi
pelaku sejarah kehidupan yang indah di masa-masa mendatang. Dalam sebuah hadis
Rasulullah saw menggambarkan sbb:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ
فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ
نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ
وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ
وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ
اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ
يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ
عَيْنَاهُ
‘Ada 7 golongan orang yang akan dinaungi Allah
di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan lagi kecuali dari
naungan-Nya, yaitu:
1) Kepala
negara atau pemimpin dalam semua tingkatan di masyarakat yang berlaku adil.
2) Pemuda
yang tekun beribadah kepada Allah sehingga dia tumbuh dewasa hingga akhir
hidupnya.
3) Laki-laki
yang tertambat hatinya kepada masjid bila dia keluar dari sana
dia ingin segera kembali lagi ke sana
4) Dua orang
yang saling mencintai karena Allah, atas dasar itu mereka berkumpul dan atas
dasar itu pula berpisah
5) Laki-laki
yang diajak maksiat oleh wanita bangsawan lagi cantik tetapi dia menolaknya
seraya berkata: sungguh aku takut kepada Allah
6) Orang yang
memberi sedekah secara sembunyi-sembunyi atau menyembunyikan sedekahnya hingga
tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya
7) Orang yang
berzikir/mengingat Allah di tempat yang sepi lalu berlinanglah air matanya.’
(HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis
ini derajat pemuda yang taat kepada Allah ditempatkan oleh Nabi saw setelah
pemimpin yang adil, suatu tanda bahwa Nabi saw membanggakan pemuda seperti itu.
Berbahagia-lah pemuda yang mampu menjalani masa mudanya seperti yang disebutkan
Rasulullah saw itu. Itulah generasi harapan Nabi dan generasi harapan umat.
Setelah itu
Nabi menyebut laki-laki yang terpikat hatinya kepada masjid seolah-olah Nabi
mendambakan suatu generasi muda yang selalu cinta dan meramaikan masjid. Adanya
dua orang yang mencintai karena Allah mengisyaratkan ciri-ciri utama anak-anak
muda yang diwarnai kehidupannya oleh rasa cinta. Tapi Nabi saw menekankan agar
rasa cinta itu didasarkan karena Allah. Atas dasar itu cinta dibina dan atas
dasar itu pula cinta diputuskan.
Generasi muda
seperti itu adalah generasi paripurna. Generasi yang memiliki sekaligus cinta
Allah, cinta orang tua dan cinta sesamanya. Merekalah generasi iman, ilmu dan
amal yang memiliki masa depan yang cerah di dunia dan di sisi Allah. Generasi
yang sedemikian itu akan tetap beribadah kepada Allah secara konsekuen apapun
profesi yang disandangnya.
Mereka giat
berusaha mengejar kemajuan di bidangnya masing-masing namun tidak akan
melupakan ketenteraman jiwa dan kesegaran tenaganya lewat munajat kepada Allah.
Mereka berbeda status tetapi dapat dipertemukan di tempat sujud. Mereka
berpisah karena perbedaan nasib dan bakat tetapi bertemu kembali dalam satu
shaf di kala shalat. Kesemuanya itu terwujud lantaran adanya kesatuan cita-cita
dan harapan yaitu menggapai keredlaan Allah semata.
Kita tentunya
mendambakan suatu masyarakat yang terdiri dari para orang tua yang semakin
bertambah ketaatannya dan para anak muda yang tumbuh dalam ketaatan pula.
Sehingga tatanan kehidupan masyarakat digerakkan secara dinamis oleh
agresivitas para pemuda dan kehati-hatian para orang tua. Menurut Hamka,
masyarakat demikianlah yang dapat mewujudkan tatanan kehidupan sosial yang
maju. Karena para pemuda biasanya cepat bertindak dalam menyelesaikan suatu
problem kehidupan. Hal itu akan sangat baik bila diimbangi oleh kematangan
berpikir para orang tua yang memang telah memiliki banyak pengalaman mengenai
asam garamnya kehidupan.
Demikianlah
semoga khutbah jumat ini dapat bermanfaat bagi kita dalam mendidik anak keturunan kita menjadi generasi yang saleh, amin ya Rabbal ‘alamin.
- Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern: M. Nurcholish Madjid
- Riyadhus Shalihin
- Buku lain yang relevan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar