Jika tidak sanggup membahagiakan orang lain, maka minimal tak menyakitinya

Total Tayangan Halaman

Rabu, 18 Desember 2013

Pendidikan anak dan generasi muda


Khutbah Jumat


PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK DAN GENERASI MUDA

Dr. La Jamaa, MHI





Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Jama’ah salat jumat yang berbahagia.

Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas karunia iman, kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat melaksanakan salat jumat di masjid yang mubarak ini. Semoga salawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi akhirul zaman, Muhammad Rasulullah saw yang telah berjuang tanpa pamrih mengantarkan manusia ke jalan yang benar dengan iman, Islam dan ihsan.
Marilah dalam hidup ini kita selalu berusaha untuk bertakwa kepada Allah sekuat kemampuan kita dalam mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Jama’ah salat jumat yang berbahagia.
Kehadiran anak ditengah-tengah keluarga akan mengantarkan jalinan kasih sayang di antara suami istri akan semakin kuat. Tidak sedikit pasangan suami istri yang berpisah di tengah jalan, kemudian tersambung kembali lantaran masing-masing teringat kepada anak mereka. Anak memang merupakan sumber kebahagiaan keluarga, buah hati yang memperkuat kehangatan kasih sayang kedua orang tuanya dan mampu membahagiakan semua sanak keluarga. Anak laksana wewangian surga yang menyemarakkan suasana kebahagiaan sebuah keluarga.
Menurut Islam, di samping menjadi nikmat dan sumber kebahagiaan, anak dapat menjadi fitnah bagi orang tuanya jika tidak mampu merawat, mengasuh, mem-bimbing dan mendidiknya dengan benar. Firman Allah:
Karena itu Orang tua harus sadar, bahwa anak adalah amanat Allah yang dipercayakan kepada orang tua, untuk dididik dengan baik dan benar, agar dapat tumbuh dewasa menjadi generasi yang saleh dan mampu meraih kebahagian hidup dunia akherat.
Ma’asyiral muslim rh.
Untuk mencetak generasi pelanjut yang baik di masa depan, ada beberapa peran strategis yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam pendidikan keluarga, yaitu:
1) Orang tua seharusnya bisa tampil sebagai pendidik dan suri teladan bagi anak-anaknya. Metode pendidikan yang efektif dalam lingkungan keluarga ialah melalui contoh dan pembiasaan ibadah salat dan puasa, serta amal kebajikan lainnya. Dengan melihat orang tuanya melakukannya secara rutin dan konsisten, anak akan mudah melakukannya setelah ia dewasa. Sebab anak pada dasarnya suka meniru apa yang sering dilihat dan didengarnya.
2) Orang tua sebagai pemberi motivasi. Untuk itu orang tua perlu memberi motivasi kepada anak-anaknya guna mempertajam kepekaan sang anak terhadap kebesaran Allah, dengan memahami fenomena alam sekitanrnya sehingga anak akan menyadari kebesaran Allah swt.
     Untuk menumbuhkan motivasi anak dalam beribadah, mempelajari dan mensyukuri ciptaan Allah yang terhampar luas di bumi, memang paling efektif dilakukan oleh keluarga.
3) Sebagai fasilitator. Keluarga diharapkan mem-fasilitasi perkembangan anak-anaknya dengan ber-bagai kelengkapan sesuai kebutuhan anak. Misalnya dengan menyediakan sumber-sumber informasi pengetahuan berupa buku, majalah, surat kabar, kaset dsb. Atau menyekolahkan mereka pada lembaga-lembaga pendidikan serta mengikutsertakan mereka dalam kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan yang dinilai akan berguna bagi anak baik dari aspek intelektual, emosional, kepribadian maupun spiritual keberagama-annya.
4) Orang tua bertindak sebagai penyaring informasi bagi anak-anaknya. Penyaringan informasi memang sangat dibutuhkan sehingga kita dapat membuat pilihan informasi yang terbaik untuk anak dan keluarga kita, dengan memilih sekolah yang tepat, buku bacaan yang sesuai dan program televisi yang lebih mendidik bagi perkembangan mental anak.
    Selaras dengan hal ini QS al-Zumar: 17-18 menjelaskan:


‘Sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hambaKu yang mendengarkan perkata-an lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.’
Ma’asyiral muslimin rh.
Orang tua yang baik adalah orang tua yang mampu menyiapkan anak-anaknya sebagai generasi pelanjutnya pada setiap saat. Setiap muslim berkewajiban menyiapkan generasi penerusnya untuk menjadi generasi muslim yang saleh yang berguna bagi keluarga, agama, nusa dan bangsa. Bahkan anak adalah pelestari pahala. Anak yang berhasil dididik menjadi anak saleh akan melestarikan pahala bagi kedua orang tuanya walaupun orang tuanya telah meninggal dunia. Nabi saw bersabda: iza mata bnu adama inqatha’a ‘amaluhu illa min tsalatsi: shadaqatin jariyah, aw ‘ilmin yanthafa’u bih, aw waladin shalih yad’u lahu (jika manusia telah meninggal, maka putuslah amalnya kecuali 3 perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya). Ini berarti jika anak gagal dididik menjadi generasi yang saleh, maka siksaan akan mengalir pula meskipun orang tuanya telah meninggal dunia.
Dengan demikian, baik buruknya akhlak anak sangat ditentukan oleh pendidikan orang tua terhadap anaknya terutama pendidikan dalam keluarga. Dalam kaitan ini Rasulullah saw bersabda:
 ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن
‘Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada budi pekerti yang baik.’   (HR Al Hakim)
 Karena dari budi pekerti yang baik itu diharapkan terjalinnya suatu hubungan yang baik dan harmonis antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan keluarganya, masyarakat dan makhluk lainnya.
Dengan demikian seorang muslim yang baik adalah orang Islam yang menjadi contoh teladan bagi generasi penerusnya. Dia dapat tampil sebagai orang tua yang menjadi panutan bagi anak-anaknya dalam kebaikan dan bukan panutan dalam kemungkaran. Orang tua harus agung di mata anak keturunannya dalam berbagai aspek kehidupannya. Rasulullah saw bersabda:
خير شبا بكم من تشبه بكهو لكم و شر كهو لكم من تشبه بشبا بكم
‘Sebaik-baik pemuda muslim ialah pemuda yang menyerupai orang-orang tua mereka (dalam kebaikan) dan sejahat-jahat orang tua di antaramu adalah orang tu yang menyerupai kelakuan anak-anak muda (dalam kecenderung-an kepada kemungkaran).’ (HR Tabrani dan Baihaqi)
Ma’asyiral muslim rahimakumullah.
Dalam hadis ini Nabi saw menganggap pemuda yang menyerupai orang tua mereka dalam kebaikan sebagai pemuda yang paling baik. Yang dimaksud pemuda di sini ialah pemuda muslim yang cenderung kepada kegiatan-kegiatan yang bernilai kebajikan dan kemaslahatan atau bernilai ibadah baik dalam hubungan dengan Allah maupun hubungan dengan sesama manusia.
Penghargaan Nabi saw kepada para pemuda muslim tersebut pada hakekatnya merupakan respon terhadap kebiasaan umum para pemuda yang biasanya menghabiskan masa mudanya untuk hura-hura dan foya.
Fenomena yang umum terjadi adalah identiknya anak muda dengan berbagai aktivitas yang tidak bermanfaat bahkan merugikan dirinya sendiri dan masyarakatnya seperti yang telah menjadi trend saat ini berupa minuman keras dan narkoba.
Dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda:
ليس منا من لم يرحم صغير نا و من لم يعرف حق كبيرنا
‘Bukanlah golongan kami orang yang tidak menyayangi anak-anak muda dan tidak tahu hak orang-orang tua.’
Hadis ini menunjukkan bahwa dari orang tua diharapkan kasih sayng untuk anak-anaknya dan dari orang muda diharapkan pengertian baik terhadap hak-hak orang tua mereka. Kasih sayang untuk mengantarkan mereka yang muda usia menjadi generasi harapan umat. Untuk mengantar mereka menjadi pribadi utama dan manusia utama. Sehingga setiap saat  siap mengemban tugas agama, bangsa dan negara.
Sebaliknya dari orang-orang muda diharapkan pengertian terhadap hak-hak orang tua sebagai pembimbing mereka dan cermin kehidupan masa lalu untuk diteladani nilai-nilai luhurnya. Darinya diharapkan lahirnya suatu generasi yag berdiri pada landasan:
al-muhaafazhatu bil qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (berpegang teguh kepada nilai-nilai lama yang baik dan luhur sambil tampil mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik).
Dari sana diharapkan kuatnya tradisi dan nilai-nilai budaya lama yang bernuansa Islami serta lahirnya nilai-nilai baru dan modern sesuai dengan tuntutan zaman yang bernuansa Islami pula.
Jama'ah jumat yang berbahagia.
Generasi harapan seperti inilah yang didambakan oleh semua orang tua. Suatu generasi pelaku sejarah kehidupan yang indah di masa-masa mendatang. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw menggambarkan sbb:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
‘Ada 7 golongan orang yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan lagi kecuali dari naungan-Nya, yaitu:
1)   Kepala negara atau pemimpin dalam semua tingkatan di masyarakat yang berlaku adil.
2)  Pemuda yang tekun beribadah kepada Allah sehingga dia tumbuh dewasa hingga akhir hidupnya.
3)  Laki-laki yang tertambat hatinya kepada masjid bila dia keluar dari sana dia ingin segera kembali lagi ke sana
4)  Dua orang yang saling mencintai karena Allah, atas dasar itu mereka berkumpul dan atas dasar itu pula berpisah
5)  Laki-laki yang diajak maksiat oleh wanita bangsawan lagi cantik tetapi dia menolaknya seraya berkata: sungguh aku takut kepada Allah
6) Orang yang memberi sedekah secara sembunyi-sembunyi atau menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya
7)   Orang yang berzikir/mengingat Allah di tempat yang sepi lalu berlinanglah air matanya.’ (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis ini derajat pemuda yang taat kepada Allah ditempatkan oleh Nabi saw setelah pemimpin yang adil, suatu tanda bahwa Nabi saw membanggakan pemuda seperti itu. Berbahagia-lah pemuda yang mampu menjalani masa mudanya seperti yang disebutkan Rasulullah saw itu. Itulah generasi harapan Nabi dan generasi harapan umat.
Setelah itu Nabi menyebut laki-laki yang terpikat hatinya kepada masjid seolah-olah Nabi mendambakan suatu generasi muda yang selalu cinta dan meramaikan masjid. Adanya dua orang yang mencintai karena Allah mengisyaratkan ciri-ciri utama anak-anak muda yang diwarnai kehidupannya oleh rasa cinta. Tapi Nabi saw menekankan agar rasa cinta itu didasarkan karena Allah. Atas dasar itu cinta dibina dan atas dasar itu pula cinta diputuskan.
Generasi muda seperti itu adalah generasi paripurna. Generasi yang memiliki sekaligus cinta Allah, cinta orang tua dan cinta sesamanya. Merekalah generasi iman, ilmu dan amal yang memiliki masa depan yang cerah di dunia dan di sisi Allah. Generasi yang sedemikian itu akan tetap beribadah kepada Allah secara konsekuen apapun profesi yang disandangnya.
Mereka giat berusaha mengejar kemajuan di bidangnya masing-masing namun tidak akan melupakan ketenteraman jiwa dan kesegaran tenaganya lewat munajat kepada Allah. Mereka berbeda status tetapi dapat dipertemukan di tempat sujud. Mereka berpisah karena perbedaan nasib dan bakat tetapi bertemu kembali dalam satu shaf di kala shalat. Kesemuanya itu terwujud lantaran adanya kesatuan cita-cita dan harapan yaitu menggapai keredlaan Allah semata.
Kita tentunya mendambakan suatu masyarakat yang terdiri dari para orang tua yang semakin bertambah ketaatannya dan para anak muda yang tumbuh dalam ketaatan pula. Sehingga tatanan kehidupan masyarakat digerakkan secara dinamis oleh agresivitas para pemuda dan kehati-hatian para orang tua. Menurut Hamka, masyarakat demikianlah yang dapat mewujudkan tatanan kehidupan sosial yang maju. Karena para pemuda biasanya cepat bertindak dalam menyelesaikan suatu problem kehidupan. Hal itu akan sangat baik bila diimbangi oleh kematangan berpikir para orang tua yang memang telah memiliki banyak pengalaman mengenai asam garamnya kehidupan.
Demikianlah semoga khutbah jumat ini dapat bermanfaat bagi kita dalam mendidik anak keturunan kita menjadi generasi yang saleh, amin ya Rabbal ‘alamin.


                        
                       
Materi khutbah ini bersumber dari beberapa referensi al:
- Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern: M. Nurcholish Madjid
- Riyadhus Shalihin
- Buku lain yang relevan


                                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar