Jika tidak sanggup membahagiakan orang lain, maka minimal tak menyakitinya

Total Tayangan Halaman

Rabu, 18 Desember 2013

Khutbah Jumat: Makna Hijrah



Khutbah Jumat

MAKNA HIJRAH DALAM KONTEKS KEKINIAN

Dr. La Jamaa, MHI




Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Jama’ah salat jumat yang berbahagia.
Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas karunia iman, kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat melaksanakan salat jumat di masjid yang mubarak ini. Semoga salawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi akhirul zaman, Muhammad Rasulullah saw yang telah berjuang tanpa pamrih mengantarkan manusia ke jalan yang benar dengan iman, Islam dan ihsan.
Marilah dalam hidup ini kita selalu berusaha untuk bertakwa kepada Allah sekuat kemampuan kita dalam mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Ma’asyiral muslimin RH. Pelaksana salat jumat yang berbahagia.
Pertukaran siang dan malam terus datang silih berganti hingga tanpa terasa kita telah berada di awal tahun baru 1435 Hijriah.
Tahun 1434 telah pergi untuk selamanya dengan meninggalkan sejuta kenangan manis dan pahit dalam perjalanan hidup setiap muslim.
Keberadaan tahun hijriah memiliki makna historis yang berkaitan erat dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw beserta para pengikutnya dari Makkah al-mukarramah ke Madinatul munawwarah. Peristiwa hijrah tsb dilakukan atas perintah Allah dalam merespon aksi kekejaman kaum kufar di Makkah terhadap kaum muslimin saat itu. Penyiksaan dilakukan kepada pengikut setia Nabi saw dengan tujuan agar kaum muslimin kembali kepada kemusyrikan.
Ma’asyiral muslimin rh
Dengan keyakinan yang mantap kepada jaminan Allah, kaum muslimin rela meninggalkan harta benda mereka di Makkah. Karena yang mereka harapkan bukan kemakmuran materi namun yang mereka utamakan adalah keredlaan Allah swt. Jika Allah redla maka tak ada yang sulit dalam kehidupan. Nabi saw berpesan dalam sebuah hadisnya:
faman kanat hijratuhu ilallahi war rasulihi fi hijratuhu ilallahi war rasul. Faman kanat hijratuhu li dunya yusibuha awim-ra-atun yankihuha fa hijratuhu ma hajara ilaih
“Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan rasul-Nya, maka dia akan mendapat pahala hijrah karena Allah dan Rasul. Namun barangsiapa yang hijrah karena mengharapkan kepentingan dunia atau wanita akan dinikahinya, maka dia akan mendapat balasan sesuai dengan tujuan hijrahnya itu.” (HR Muslim)
Hijrah merupakan awal kebangkitan Islam dan awal kemerdekaan umat Islam dalam realitas kehidupan serta kebebasan dalam beribadah kepada Allah swt. Kota Madinah saat itu merupakan basis perjuangan umat Islam menuju kehidupan yang aman, tenteram, rukun dan damai.
Menilik peristiwa historis yang sangat berarti itu sehingga khalifah Umar bin Khattab menetapkan awal hijrah Nabi beserta para pengikutnya ke Madinah itu sebagai awal kalender Islam, sebab menurut sayidina Umar: al-hijratu mufarriqatun baynal haqqi wal bathil (hijrah merupakan batas pemisah antara yang benar dengan batil). Hal itu bertujuan agar semangat hijrah tersebut dapat dijadikan sebagai suri teladan dalam mentaati ajaran Islam dalam kehidupan.
Ma’asyiral muslimin rh
Makna hijrah meliputi beberapa aspek kehidupan antara lain:
Pertama, hijrah dalam arti pindah dari darul kufri, daerah yang penuh kekufuran, ke daerah Islam, bagi orang-orang yang baru masuk Islam, tetapi selalu mendapat tekanan di tengah-tengah kaumnya. Hijrah seperti inilah yang dilaksanakan oleh umat Islam pada awal Islam.
Menurut catatan sejarah, langkah awal yang dicanangkan Nabi saw setibanya di Madinah adalah mendirikan masjid. Karena masjid merupakan pusat ibadah sekaligus sarana yang strategis untuk menggalang persatuan umat Islam yang kuat. Masjid sebagai baitullah, adalah milik Allah sehingga siapapun dari kalangan umat Islam berhak beribadah di dalamnya.
Islam tidak mengenal pemisahan suatu masjid yang dikhususkan bagi suatu masyarakat dimana masjid itu berada, agar ukhuwah Islamiah dapat terbina secara menyeluruh. Apalagi patut disadari, bahwa persahabatan yang terjalin dari dalam masjid memiliki kesan rohani yang sangat mendalam. Orang yang berjauhan laksana langit dan bumi dapat dipertemukan di mihrab dan tempat sujud. Mereka berpisah karena perbedaan nasib dan bakat namun bertemu kembali dalam shaf di saat shalat. Berbeda pendapat dan pandangan tetapi sama-sama menghadapkan wajah mengikuti imam.
Ma’asyiral muslimin rh
Makna hijrah yang kedua adalah keluar dari daerah atau perbuatan syirik dan bid’ah. Dalam realitas kehidupan syirik atau menyekutukan Allah selalu memikat hati setiap manusia termasuk orang yang bergama Islam. Bid’ah adalah amalan ibadah mahdah yang diada-adakan tanpa dalil yang sahih. Dalam kaitan ini kaidah fiqh menegaskan:  al-aslu fil ‘ibadati al-buthlan hatta yaqumad dalilu ‘alal amri (pada dasarnya ibadah itu batal dilakukan sehingga ada dalil yang memerintahkannya). Nabi saw telah menegaskan dalam sebuah hadisnya: man ahdatsa fi amrina hadza ma laysa minhu fahuwa raddu (barangsiapa yang mengada-adakan dalam agama kita ini sesuatu yg tidak memiliki dasar, maka ia tertolak) HR Bukhari Muslim.
Bid’ah berbeda dengan amalam yang merupakan hasil ijtihad dari dasar syar’i yang kuat. Allah menegaskan dalam QS al-An’am: 153


‘Dan sungguh yang kuperintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.
Dengan demikian penilaian utama terhadap ibadah setiap muslim bukan pada jumlah semata namun juga harus memperhatikan kualitasnya.
Ma’asyiral muslimin rh
Syirik adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain dalam segala bentuk dan manifestasinya. Syirik dan tauhid laksana dua garis lurus yang sejajar, yang logikanya tidak pernah berpotongan. Demikian pula syirik dan tauhid tak akan pernah kompromi dan bertemu pada satu tujuan. Seperti halnya dua garis yang sejajar yang nampak seolah-olah bertemu pada jarak tak terhingga, syirik pun menyesatkan manusia karena disangka dapat berkompromi dengan tauhid, padahal antara keduanya terdapat perbedaan bagaikan siang dan malam serta berjauhan seperti langit dan bumi.
Salah satu bentuk kemusyrikan adalah mempercayai keterangan dukun dalam masalah-masalah yang gaib. Nabi saw mengingatkan bahwa:
‘Siapa yang datang kepada dukun lalu ia percaya pada keterangannya, maka ia terlepas dari apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Siapa yg datang kepada dukun tapi tidak mempercayai keterangannya, maka tak akan diterima shalatnya selama 40 hari.’ (HR Tabrani)
Menurut salah satu hadis sahih, bahwa keterangan dukun tsb berasal dari berita alam gaib yang dicuri oleh Jin dan disampaikan kepada dukun setelah dicampur dengan 100 macam kebohongan. Sehingga berita dukun adalah bohong pula.
Saat ini marak dengan sms yang menawarkan nomor togel yang seolah-olah nomor tsb merupakan nomor jitu yang jika dipasang, maka akan memberikan keberuntungan bagi pemasangnya. Yang pasti, bahwa tawaran nomor-nomor togel adalah bohong. Secara logika sederhana, jika memang nomor itu benar jitu, maka tak perlu susah-susah ditawarkan kepada orang lain dengan imbalan Rp. 50.000 atau Rp. 100.000. Lebih baik pemilik nomor itu sendiri yang pasang sehingga mendapatkan uang dari bandar togel. Namun sebenarnya, tawaran tsb hanyalah sebuah kebohongan. Perlu disadari, bahwa tak ada orang yang kaya dari judi apapun namanya, termasuk togel. Sebaliknya, orang-orang yang kaya memperoleh hartanya dari usaha dan kerja keras.
Ma’asyiral muslimin
Untuk itu setiap muslim perlu memiliki istiqamah, keteguhan hati dan pendirian pada jalan yang diredai Allah. Iman adalah dasar dan batas terakhir sedangkan istiqamah merupakan penghubung antara dasar dan batas terakhir tadi. Istiqamah merupakan cermin dari iman yang akan terpancar dalam realitas kehidupan seseorang.
Istiqamah itu sendiri berpangkal dari benarnya iman dan mengikuti ajaran Nabi saw lahir dan batin. Iman tanpa   istiqamah tak akan sempurna dan istiqamah tanpa dasar iman berarti batil. Sayid Sabiq mengemukakan: fa idza shalahatil ‘aqidah shalahas suluk wastaqam wa idza fasadat fasada wa a’waj (bila akidah atau keimanan itu baik, maka akan baik pula seluruh kehidupan dan kehidupan. Tapi jika iman itu rusak, maka semuanya akan binasa dan berantakan).
Ma’asyiral muslimin rh
Makna hijrah yang ketiga adalah keluar dari kemungkaran menuju kepada kesalehan. Salah satu kemungkaran yang nyata adalah kebiasaan meminum minuman keras. Bahkan saat ini meningkat dengan narkoba. Banyak di kalangan umat Islam yang terkecoh dengan persepsi keliru yang mengira kebiasaan meminum minuman keras sebagai gaya hidup modern. Padahal kebiasaan menenggak minuman keras telah marak di zaman jahiliah pada awal Islam.
Semoga semangat hijrah dapat kita aplikasikan dalam konteks kekinian, untuk hijrah kepada sikap hidup yang bersungguh-sungguh dalam bekerja dan beribadah kepada Allah, disertai dengan sikap optimis karena jika kita berusaha secara sungguh-sungguh dengan mengharapkan pertolongan Allah maka tak ada yang tak mungkin bisa terwujud. Dalam mencapai cita-cita yang mulia, diperlukan perjuangan dan setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan disertai keuletan dan ketabahan.
Demikianlah semoga khutbah jumat ini dapat bermanfaat bagi kita dalam menggapai redla Allah, amin ya Rabbal ‘alamin.


Materi khutbah ini bersumber dari beberapa referensi al:


- Kitab Naylul Authar: asy Syaukani
- Kaidah-Kaidah Fiqh: D. Djazuli
- Lentera Hati: M. Quraish Shihab
- dll



                        
                       



                                                 

1 komentar:

  1. Best casino 2021【FULL review & exclusive bonuses
    › casino 목포 출장마사지 › 2021/09/18 › best-casino › casino › 2021/09/18 › best-casino 부천 출장마사지 The Best 전라남도 출장마사지 Casino Review 2021 Casino Review 2021 군산 출장안마 Play at our casino, get exclusive no deposit bonuses and free spins. Rating: 경상남도 출장안마 3.5 54 votes

    BalasHapus