Jika tidak sanggup membahagiakan orang lain, maka minimal tak menyakitinya

Total Tayangan Halaman

Kamis, 19 Desember 2013

Puasa Ramadan: Peningkatan Potensi Kecerdasan Manusia



Khutbah Idul Fitri
 
Puasa Ramadan dan Peningkatan Potensi 
Kecerdasan Manusia

Dr. La Jamaa, MHI



Allahu akbar 3x. Ma’asyiral muslimin Jama’ah salat idul fitri yang berbahagia.

Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas karunia iman, kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat melaksanakan salat idul fitri di masjid yang mubarak ini. Kita patut bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadan, dan menuntun kita memanfaatkan Ramadan dengan berbagai amal ibadah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Semoga salawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi akhirul zaman, Muhammad Rasulullah saw yang telah berjuang tanpa pamrih mengangkat harkat dan martabat manusia dengan cahaya Islam.


Marilah dalam hidup ini kita selalu berusaha untuk bertakwa kepada Allah sekuat kemampuan kita dalam mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Bulan Ramadan telah pergi meninggalkan kita, dan kita semua berharap semoga kita dapat bertemu kembali dengan Ramadan pada tahun depan, amin ya rabbal ‘alamin.

Bulan Ramadan adalah bulan mengasah dan mengasuh jiwa melalui puasa selama sebulan, dengan harapan umat Islam dapat kembali ke asal kejadiannya dan menemukan jati dirinya, kembali suci sebagaimana ketika dia baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar.

Dengan demikian idul fitri bermakna kembalinya umat Islam kepada eksistensi yang hakiki sebagai hamba Allah, kembali kepada kesadaran adanya pengawasan Allah serta merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya. Sehingga diamnya menjadi zikir, nafasnya menjadi tasbih, penglihatannya membawa rahmat, pikirannya selalu optimis serta hatinya menjadi doa dalam menjalani hidup dan kehidupan 11 bulan setelah Ramadan.

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Puasa merupakan ibadah pasif berupa menahan diri dari tiga macam kebutuhan penting manusia, yakni makan, minum dan hubungan biologis suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dengan tidak makan dan minum, seorang muslim yang berpuasa dilatih untuk memiliki kesadaran spiritual dalam meneladani sifat Allah yang tidak makan dan minum, bahkan kesadaran itu akan lebih sempurna jika yang berpuasa itu rela memberi makan kepada fakir miskin, karena al-Qur’an memperkenalkan Allah sebagai 
              فاطر السموات و الارض و هو يطعم ولا يطعم

‘Pencipta langit dan bumi, memberi makan dan tidak membutuhkan makanan.’ (QS al-An’am: 14)

Dengan tidak melakukan hubungan biologis suami istri, seseorang yang berpuasa meneladani sifat Allah yang ditegaskan dalam al-Qur’an sebagai:
انى يكون له ولد و لم تكن له صاحبة   

‘Tidak memiliki anak. Bagaimana Dia memiliki anak padahal Dia tidak memiliki pasangan’ (QS al-An’am: 101)

Walaupun hanya kedua sifat itu yang digarisbawahi oleh ketetapan puasa untuk diteladani, namun secara substansial, berpuasa seharusnya berakhir dengan terpantulnya semua sifat-sifat Allah, kecuali sifat Ketuhanan-Nya, dalam kepribadian seseorang, karena puasa pada akhirnya adalah upaya meneladani sifat-sifat Tuhan sesuai dengan kapasitas manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan di hadapan Allah Yang Mahasempurna.

Dengan sifat-Nya sebagai ar rahman (Pelimpah kasih sayang bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia ini), yang berpuasa melatih diri untuk saling berbagi kepada semua makhluk. Dengan sifat-Nya ar-rahim (Pelimpah rahmat di hari kiamat), yang berpuasa memberi kasih kepada saudara-saudara seiman sambil meyakini, bahwa  tiada kebahagiaan kecuali bila rahmat-Nya di hari akhir dapat diraih.

Dengan sifat al-Quddus (Maha suci), orang yang berpuasa dilatih untuk meyucikan dirinya lahir dan batin, serta mengembangkan diri untuk menghindari hal-hal yang mengotori jiwa, pikiran dan keyakinannya, seperti syirik dan sebagainya.

Dengan meneladani sifat Tuhan al-‘Afuwwun (Maha Pemaaf), seseorang yang berpuasa akan selalu bersedia memberi maaf dan menghapus bekas-bekas luka hatinya. Sedangkan dengan meneladani sifat al-Karim (Maha Pemurah), seseorang akan menjadi sangat dermawan yang dilandasi mencari reda Allah dan bukan kedermawanan semu, memberi sedikit untuk merampas hak-hak orang miskin secara zalim.

Dengan meneladani sifat Allah yang Maha Mengetahui, orang yang berpuasa hendaknya terus-menerus berupaya menambah ilmunya. Dalam upaya tersebut, dia dituntut agar dapat menggunakan secara maksimal semua potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya, baik pancaindera, akal maupun kalbunya, untuk meraih sebanyak mungkin ilmu yang bermanfaat, baik ilmu yang berkaitan dengan alam raya yang bersifat kasat mata, maupun ilmu yang bersifat non empiris, yang hanya dapat diraih dengan kesucian jiwa dan kejernihan kalbu yang mengantarkan kepada kecerdasan spiritual.

Dimensi spiritual akan mengantarkan manusia percaya kepada yang gaib. Kecerdasan spiritual yang diperoleh melalui puasa dapat memberikan kemampuan merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Kesadaran bahwa dirinya senantiasa berada dalam pengawasan Allah. Dia menyadari ada kamera Ilahiah yang terus menyoroti hati dan tindak tanduknya serta dicatat oleh Allah tanpa ada satupun yang tercecer. Kesadaran bahwa Allah senantiasa bersamanya (innallaha ma’ana), dan perasaan bahwa Allah menyaksikkan dirinya, merupakan bentuk fitrah manusia. Kondisi hati sedemikian itu akan mendatangkan ketenangan jiwa atau kebahagiaan yang menjadi dambaan semua manusia di dunia ini.

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Bulan Ramadan adalah bulan latihan mengendalikan hawa nafsu bagi umat Islam. Bahkan idealnya puasa yang telah dijalani sebulan lalu dapat mengantarkan kita untuk meninggalkan hawa nafsu menuju Tuhan. Allah sebenarnya dekat namun yang menjadi penghalang antara manusia dengan Allah adalah hawa nafsu dalam jiwanya. Dalam kaitan ini puasa bertujuan untuk mengendalikan diri dalam arti yang sangat luas, baik belenggu nafsu duniawi maupun nafsu batiniah yang tak seimbang. Sehingga dapat memaksimalkan fungsi God Spot. God Spot, ialah kejernihan hati dan pikiran manusia yang merupakan sumber suara hati yang senantiasa memberikan bimbingan dan informasi maha penting untuk keberhasilan dan kemajuan manusia. Karena itu pula maka puasa menurut Islam harus didahului dengan niat.

Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Allah menganugerahkan setiap manusia nafsu dan dorongan syahwat. Allah memperindah hal itu dalam diri setiap insan, sesuai firman-Nya dalam QS Ali Imran: 14
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
‘Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada aneka syahwat, yakni para wanita, anak, harta yang melimpah dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.’

Kecintaan inilah yang menjadi pendorong utama bagi semua aktivitas manusia. Namun setan dan nafsu seringkali diperindah hal-hal tersebut untuk melalaikannya dari tugas kekhalifahannya.

Jika seks diperindah oleh setan, maka ia akan dijadikan tujuan hidup. Sehingga apapun caranya dan dengan siapapun itu dilakukan, tidak dipersoalkan, cenderung kepada seks bebas. Kecintaan kepada anak jika diperindah setan, maka subjektivitas akan muncul, bahkan atas nama cinta, orangtua kerapkali memberi semua keinginan anaknya walau dengan melanggar dan merusak karakter anak itu sendiri. Dan jika harta diindahkan setan, maka manusia akan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya, menumpuk dan melupakan fungsi sosial hartanya. Jiwanya serakah di saat mencari harta dan muncul sifat kikir di saat memiliki harta, sehingga enggan berbagi kepada sesama. Namun terkadang mereka royal, bersikap boros membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan, seperti minum minuman keras, narkoba, main judi dan wanita.
Melalui puasa Ramadan, berbagai kecenderungan hawa nafsu yang negatif itu diharapkan dapat dikendalikan sehingga potensi kebaikan dalam jiwa akan meningkat dan potensi fujur menurun. Dalam QS asy Syams: 8-10 dijelaskan:
فألهمها فجورها و تقوها قد أفلح من زكاها و قدخاب من دساها
‘Dia (Allah) telah mengilhamkan kedalam jiwa manusia jalan kejahatan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa itu dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.

Kata fujur bermakna berpaling dari kebaikan atau melakukan kemaksiatan. Ayat di atas mengandung makna bahwa Allah memberikan potensi dan kemampuan kepada jiwa manusia untuk menelusuri jalan kedurhakaan dan ketakwaan. Dengan potensi ini, manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dia mampu mengarahkan dirinya menuju kebaikan atau menghindari keburukan dalam kadar yang sama.

Dalam diri manusia memang ada 3 kekuatan hawa nafsu yang mendorong manusia melakukan sesuatu, yakni: 1) Quwwatun Bahimiyyah, (kekuatan kebinatangan). 2) quwwatun sab’iyyah (kekuatan binatang buas, sehingga manusia terkadang suka menyerang orang lain, suka mengambil hak orang lain, suka menyakiti orang lain, dan 3) quwwatun syaithaniyyah, yang mendorong manusia untuk membenarkan segala kejahatan yang dilakukannya.

Allahu akbar 3x wa lillahil hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Melalui puasa Ramadan diharapkan dapat diperoleh kecerdasan emosional. Dengan kecerdasan emosional manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan menghilangkannya sama sekali. Emosi dan nafsu yang terkendali sangat dibutuhkan mendorong terlaksananya tugas memakmurkan bumi sesuai dengan kehendak dan tuntunan Ilahi. Untuk itulah Allah memberikan quwwatun rabbaniyyah, kekuatan Tuhan dalam jiwa manusia, yang berasal dari percikan cahaya Tuhan yang terletak pada akal sehat atau hati nurani manusia.

Puasa Ramadan pada hakikatnya merupakan peluang umat Islam memperbaharui, dan menyegarkan kembali dominasi kekuatan Tuhan, sekaligus menekan kekuatan hawa nafsu dalam jiwanya. Sehingga hidupnya dapat lebih bermakna dan meraih predikat orang mampu mengelola emosinya yang mengantarkannya meraih kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional mendorong lahirnya ketabahan dan kesabaran menghadapi segala tantangan dan ujian. Pemahaman ini didasarkan kepada sabda Nabi saw: al-shiyam nisfu al-sabr (‘puasa itu separuh dari kesabaran).

Kecerdasan emosional mengantarkan seseorang tak berbicara atau bertindak kecuali sesuai dengan tuntunan akal, moral, dan agama. Dia berbicara dan bertindak pada saat diperlukan dan dengan kadar yang diperlukan, serta pada waktu dan tempat yang tepat. Kecerdasan emosional mengantarkan Nabi saw bersama para sahabat menggunakan emosi amarah dan tampil berperang di Badar pada tanggal 17 Ramadan 2 H.

Ada sebuah kisah, seorang ibu yang cerdas secara emosional suatu hari sibuk mempersiapkan jamuan makan yang diadakan sang suami. Sebelum para tamu  datang, tiba-tiba anaknya datang menaburkan debu di atas makanan yang tersaji. Setelah melihat hal itu ibunya sontak marah dan berkata: “idzhab ja’alaka llahu imaman lil haramain, pergilah kamu… Biar kamu jadi imam di Haramain.” Ternyata ucapan kemarahan sang ibu menjadi doa yang mengantarkan anaknya menjadi imam Masjid Haram yang saat ini dikenal dengan Syekh Abdurrahman as-Sudais.

Kecerdasan emosional melahirkan keseimbangan yang pada gilirannya dapat menjadikannya berpikir logis, objektif. Sehingga puasa pada gilirannya dapat meningkatkan kecerdasan intelektual. Pengetahuan adalah nur (cahaya) yang dicampakkan Allah ke dalam hati siapa yang mempersiapkan diri untuk meraihnya. Sebab puasa dapat merangsang syaraf-syaraf kecerdasan untuk berpikir aktif, dinamis dan konstruktif. Karena itulah para ulama selalu berpuasa untuk meningkatkan kecerdasan.

Kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang diperoleh melalui puasa tsb sangat dibutuhkan manusia dalam menjalani lalu lintas kehidupan ini.

Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah

Semoga puasa Ramadan yang telah dijalani sebulan penuh dapat menuntun kita selalu berpikir positif dan berprasangka baik terhadap Tuhan dan sesama manusia sehingga hidup dengan penuh optimis dalam menatap masa depan. Baginya hidup ini akan terasa indah dan nyaman jika tiada dendam dengan sesama. Suasana idul fitri saat ini merupakan momen penting untuk saling memaafkan.

Demikianlah semoga khutbah ini dapat bermanfaat bagi kita dalam menata kehidupan yang lebih baik di hari esok dengan semangat kembali kepada fitrah dan ampunan Allah. Mohon maaf lahir dan batin. Taqabballahu minna wa minkum taqabbal ya karim. Amin ya rabbal ‘alamin.


Materi khutbah ini bersumber dari beberapa referensi al:
- Lentera Hati: M. Quraish Shihab
- Renungan Tasawuf: Jalaluddin Rakhmat
- Kepribadian dalam Psikologi Islam: Abdul Mujib






                        

                       




                                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar