Khutbah Idul Fitri
Puasa Ramadan dan Peningkatan Potensi
Kecerdasan Manusia
Dr. La Jamaa, MHI
Allahu akbar 3x. Ma’asyiral muslimin Jama’ah salat idul
fitri yang berbahagia.
Alhamdulillah
kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas karunia iman, kesehatan dan kesempatan
sehingga kita dapat melaksanakan salat idul fitri di masjid yang mubarak ini.
Kita patut bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan kita dengan bulan
Ramadan, dan menuntun kita memanfaatkan Ramadan dengan berbagai amal ibadah
sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Semoga salawat dan salam senantiasa
dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi akhirul zaman, Muhammad Rasulullah saw
yang telah berjuang tanpa pamrih mengangkat harkat dan martabat manusia dengan cahaya Islam.
Marilah dalam hidup ini
kita selalu berusaha untuk bertakwa kepada Allah sekuat kemampuan kita dalam
mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Allahu akbar 3x wa lillahil
hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah
Bulan Ramadan
telah pergi meninggalkan kita, dan kita semua berharap semoga kita dapat
bertemu kembali dengan Ramadan pada tahun depan, amin ya rabbal ‘alamin.
Bulan Ramadan adalah
bulan mengasah dan mengasuh jiwa melalui puasa selama sebulan, dengan harapan umat
Islam dapat kembali ke asal kejadiannya dan menemukan jati dirinya, kembali
suci sebagaimana ketika dia baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran
agama yang benar.
Dengan demikian idul
fitri bermakna kembalinya umat Islam kepada eksistensi yang hakiki sebagai
hamba Allah, kembali kepada kesadaran adanya pengawasan Allah serta merasakan
kehadiran Allah dalam hidupnya. Sehingga diamnya menjadi zikir, nafasnya
menjadi tasbih, penglihatannya membawa rahmat, pikirannya selalu optimis serta
hatinya menjadi doa dalam menjalani hidup dan kehidupan 11 bulan setelah
Ramadan.
Allahu akbar 3x wa lillahil
hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah
Puasa merupakan ibadah
pasif berupa menahan diri dari tiga macam kebutuhan penting manusia, yakni makan,
minum dan hubungan biologis suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam
matahari. Dengan tidak makan dan minum, seorang muslim yang berpuasa dilatih
untuk memiliki kesadaran spiritual dalam meneladani sifat Allah yang tidak
makan dan minum, bahkan kesadaran itu akan lebih sempurna jika yang berpuasa
itu rela memberi makan kepada fakir miskin, karena al-Qur’an memperkenalkan
Allah sebagai
فاطر السموات و الارض و هو يطعم ولا يطعم
‘Pencipta langit dan
bumi, memberi makan dan tidak membutuhkan makanan.’ (QS al-An’am: 14)
Dengan tidak melakukan
hubungan biologis suami istri, seseorang yang berpuasa meneladani sifat Allah
yang ditegaskan dalam al-Qur’an sebagai:
انى يكون له ولد و لم تكن له صاحبة
‘Tidak memiliki anak.
Bagaimana Dia memiliki anak padahal Dia tidak memiliki pasangan’ (QS al-An’am:
101)
Walaupun
hanya kedua sifat itu yang digarisbawahi oleh ketetapan puasa untuk diteladani,
namun secara substansial, berpuasa seharusnya berakhir dengan terpantulnya
semua sifat-sifat Allah, kecuali sifat Ketuhanan-Nya, dalam kepribadian
seseorang, karena puasa pada akhirnya adalah upaya meneladani sifat-sifat Tuhan
sesuai dengan kapasitas manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan di
hadapan Allah Yang Mahasempurna.
Dengan sifat-Nya sebagai ar
rahman (Pelimpah kasih sayang bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia
ini), yang berpuasa melatih diri untuk saling berbagi kepada semua makhluk.
Dengan sifat-Nya ar-rahim (Pelimpah rahmat di hari kiamat), yang
berpuasa memberi kasih kepada saudara-saudara seiman sambil meyakini, bahwa tiada kebahagiaan kecuali bila rahmat-Nya di
hari akhir dapat diraih.
Dengan sifat al-Quddus
(Maha suci), orang yang berpuasa dilatih untuk meyucikan dirinya lahir dan batin,
serta mengembangkan diri untuk menghindari hal-hal yang mengotori jiwa, pikiran
dan keyakinannya, seperti syirik dan sebagainya.
Dengan meneladani sifat
Tuhan al-‘Afuwwun (Maha Pemaaf), seseorang yang berpuasa akan selalu
bersedia memberi maaf dan menghapus bekas-bekas luka hatinya. Sedangkan dengan
meneladani sifat al-Karim (Maha Pemurah), seseorang akan menjadi sangat
dermawan yang dilandasi mencari reda Allah dan bukan kedermawanan semu, memberi
sedikit untuk merampas hak-hak orang miskin secara zalim.
Dengan meneladani sifat
Allah yang Maha Mengetahui, orang yang berpuasa hendaknya terus-menerus
berupaya menambah ilmunya. Dalam upaya tersebut, dia dituntut agar dapat
menggunakan secara maksimal semua potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya,
baik pancaindera, akal maupun kalbunya, untuk meraih sebanyak mungkin ilmu yang
bermanfaat, baik ilmu yang berkaitan dengan alam raya yang bersifat kasat mata,
maupun ilmu yang bersifat non empiris, yang hanya dapat diraih dengan kesucian
jiwa dan kejernihan kalbu yang mengantarkan kepada kecerdasan spiritual.
Dimensi spiritual akan
mengantarkan manusia percaya kepada yang gaib. Kecerdasan spiritual yang
diperoleh melalui puasa dapat memberikan kemampuan merasakan kehadiran Tuhan
dalam kehidupan. Kesadaran bahwa dirinya senantiasa berada dalam pengawasan
Allah. Dia menyadari ada kamera Ilahiah yang terus menyoroti hati dan tindak
tanduknya serta dicatat oleh Allah tanpa ada satupun yang tercecer. Kesadaran
bahwa Allah senantiasa bersamanya (innallaha ma’ana), dan perasaan bahwa
Allah menyaksikkan dirinya, merupakan bentuk fitrah manusia. Kondisi hati
sedemikian itu akan mendatangkan ketenangan jiwa atau kebahagiaan yang menjadi
dambaan semua manusia di dunia ini.
Allahu akbar 3x wa lillahil
hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah
Bulan Ramadan adalah
bulan latihan mengendalikan hawa nafsu bagi umat Islam. Bahkan idealnya puasa
yang telah dijalani sebulan lalu dapat mengantarkan kita untuk meninggalkan
hawa nafsu menuju Tuhan. Allah sebenarnya dekat namun yang menjadi penghalang
antara manusia dengan Allah adalah hawa nafsu dalam jiwanya. Dalam kaitan ini
puasa bertujuan untuk mengendalikan diri dalam arti yang sangat luas, baik
belenggu nafsu duniawi maupun nafsu batiniah yang tak seimbang. Sehingga dapat
memaksimalkan fungsi God Spot. God Spot, ialah kejernihan hati dan
pikiran manusia yang merupakan sumber suara hati yang senantiasa memberikan
bimbingan dan informasi maha penting untuk keberhasilan dan kemajuan manusia.
Karena itu pula maka puasa menurut Islam harus didahului dengan niat.
Ma’asyiral muslimin rahima
kumullah
Allah menganugerahkan
setiap manusia nafsu dan dorongan syahwat. Allah memperindah hal itu dalam diri
setiap insan, sesuai firman-Nya dalam QS Ali Imran: 14
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ
الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ
الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ
ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
‘Dijadikan indah bagi
manusia kecintaan kepada aneka syahwat, yakni para wanita, anak, harta yang
melimpah dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah
ladang.’
Kecintaan
inilah yang menjadi pendorong utama bagi semua aktivitas manusia. Namun setan
dan nafsu seringkali diperindah hal-hal tersebut untuk melalaikannya dari
tugas kekhalifahannya.
Jika seks
diperindah oleh setan, maka ia akan dijadikan tujuan hidup. Sehingga apapun caranya dan
dengan siapapun itu dilakukan, tidak dipersoalkan, cenderung kepada seks bebas. Kecintaan kepada anak jika
diperindah setan, maka subjektivitas akan muncul, bahkan atas nama cinta,
orangtua kerapkali memberi semua keinginan anaknya walau dengan melanggar dan merusak karakter anak itu sendiri. Dan
jika harta diindahkan setan, maka manusia akan menghalalkan segala cara untuk
memperolehnya, menumpuk dan melupakan fungsi sosial hartanya. Jiwanya serakah di saat mencari harta dan muncul sifat kikir di saat memiliki harta, sehingga enggan berbagi kepada sesama. Namun terkadang mereka royal, bersikap boros membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan, seperti minum minuman keras, narkoba, main judi dan wanita.
Melalui puasa Ramadan, berbagai kecenderungan hawa nafsu yang negatif itu diharapkan dapat dikendalikan sehingga potensi kebaikan dalam jiwa akan meningkat dan potensi fujur menurun. Dalam QS asy Syams: 8-10 dijelaskan:
Melalui puasa Ramadan, berbagai kecenderungan hawa nafsu yang negatif itu diharapkan dapat dikendalikan sehingga potensi kebaikan dalam jiwa akan meningkat dan potensi fujur menurun. Dalam QS asy Syams: 8-10 dijelaskan:
فألهمها فجورها و تقوها قد أفلح من زكاها و قدخاب من دساها
‘Dia (Allah) telah
mengilhamkan kedalam jiwa manusia jalan kejahatan dan ketakwaan. Sungguh
beruntung orang yang mensucikan jiwa itu dan sungguh merugilah orang yang
mengotorinya.
Kata fujur
bermakna berpaling dari kebaikan atau melakukan kemaksiatan. Ayat di atas
mengandung makna bahwa Allah memberikan potensi dan kemampuan kepada jiwa
manusia untuk menelusuri jalan kedurhakaan dan ketakwaan. Dengan potensi ini,
manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dia mampu
mengarahkan dirinya menuju kebaikan atau menghindari keburukan dalam kadar yang
sama.
Dalam diri manusia memang
ada 3 kekuatan hawa nafsu yang mendorong manusia melakukan sesuatu, yakni: 1) Quwwatun
Bahimiyyah, (kekuatan kebinatangan). 2) quwwatun sab’iyyah (kekuatan
binatang buas, sehingga manusia terkadang suka menyerang orang lain, suka
mengambil hak orang lain, suka menyakiti orang lain, dan 3) quwwatun
syaithaniyyah, yang mendorong manusia untuk membenarkan segala kejahatan
yang dilakukannya.
Allahu akbar 3x wa lillahil
hamd. Ma’asyiral muslimin rahima kumullah
Melalui puasa Ramadan
diharapkan dapat diperoleh kecerdasan emosional. Dengan kecerdasan emosional
manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan menghilangkannya sama sekali. Emosi
dan nafsu yang terkendali sangat dibutuhkan mendorong terlaksananya tugas
memakmurkan bumi sesuai dengan kehendak dan tuntunan Ilahi. Untuk itulah Allah
memberikan quwwatun rabbaniyyah, kekuatan Tuhan dalam jiwa
manusia, yang berasal dari percikan cahaya Tuhan yang terletak pada akal sehat
atau hati nurani manusia.
Puasa Ramadan
pada hakikatnya merupakan peluang umat Islam memperbaharui, dan menyegarkan kembali
dominasi kekuatan Tuhan, sekaligus menekan kekuatan hawa nafsu dalam jiwanya. Sehingga hidupnya dapat lebih bermakna dan meraih predikat orang mampu mengelola emosinya yang mengantarkannya meraih kecerdasan emosional.
Kecerdasan
emosional mendorong lahirnya ketabahan dan kesabaran menghadapi segala
tantangan dan ujian. Pemahaman ini didasarkan kepada sabda Nabi saw: al-shiyam
nisfu al-sabr (‘puasa itu separuh dari kesabaran).
Kecerdasan
emosional mengantarkan seseorang tak berbicara atau bertindak kecuali sesuai
dengan tuntunan akal, moral, dan agama. Dia berbicara dan bertindak pada saat
diperlukan dan dengan kadar yang diperlukan, serta pada waktu dan tempat yang
tepat. Kecerdasan emosional mengantarkan Nabi saw bersama para sahabat
menggunakan emosi amarah dan tampil berperang di Badar pada tanggal 17 Ramadan
2 H.
Ada sebuah
kisah, seorang ibu yang cerdas secara emosional suatu hari sibuk mempersiapkan
jamuan makan yang diadakan sang suami. Sebelum para tamu datang, tiba-tiba anaknya datang menaburkan
debu di atas makanan yang tersaji. Setelah melihat hal itu ibunya sontak marah
dan berkata: “idzhab ja’alaka llahu imaman lil haramain,
pergilah kamu… Biar kamu jadi imam di Haramain.” Ternyata ucapan kemarahan sang
ibu menjadi doa yang mengantarkan anaknya menjadi imam Masjid Haram yang saat
ini dikenal dengan Syekh Abdurrahman as-Sudais.
Kecerdasan
emosional melahirkan keseimbangan yang pada gilirannya dapat menjadikannya
berpikir logis, objektif. Sehingga puasa pada gilirannya dapat meningkatkan
kecerdasan intelektual. Pengetahuan adalah nur (cahaya) yang dicampakkan Allah
ke dalam hati siapa yang mempersiapkan diri untuk meraihnya. Sebab puasa dapat
merangsang syaraf-syaraf kecerdasan untuk berpikir aktif, dinamis dan
konstruktif. Karena itulah para ulama selalu berpuasa untuk meningkatkan
kecerdasan.
Kecerdasan
intelektual, emosional dan spiritual yang diperoleh melalui puasa tsb sangat
dibutuhkan manusia dalam menjalani lalu lintas kehidupan ini.
Ma’asyiral muslimin
Rahimakumullah
Semoga puasa
Ramadan yang telah dijalani sebulan penuh dapat menuntun kita selalu berpikir
positif dan berprasangka baik terhadap Tuhan dan sesama manusia sehingga hidup
dengan penuh optimis dalam menatap masa depan. Baginya hidup ini akan terasa
indah dan nyaman jika tiada dendam dengan sesama. Suasana idul fitri saat ini
merupakan momen penting untuk saling memaafkan.
Demikianlah
semoga khutbah ini dapat bermanfaat bagi kita dalam menata kehidupan yang lebih
baik di hari esok dengan semangat kembali kepada fitrah dan ampunan Allah.
Mohon maaf lahir dan batin. Taqabballahu minna wa minkum taqabbal ya karim.
Amin ya rabbal ‘alamin.
- Lentera Hati: M. Quraish Shihab
- Renungan Tasawuf: Jalaluddin Rakhmat
- Kepribadian dalam Psikologi Islam: Abdul Mujib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar