Jika tidak sanggup membahagiakan orang lain, maka minimal tak menyakitinya

Total Tayangan Halaman

Rabu, 18 Desember 2013

Etos Kerja



Khutbah Jumat
ETOS KERJA

Dr. La Jamaa, MHI



Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas taufik dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat melaksanakan salat jumat di masjid yang mubarak ini. Semoga salawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi akhirul zaman, Muhammad Rasulullah saw yang telah berjuang tanpa pamrih mengantarkan manusia ke jalan yang benar dengan iman, islam dan ihsan.

Marilah dalam hidup ini kita selalu berusaha untuk bertakwa kepada Allah sekuat kemampuan kita dalam mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Pada dasarnya Islam adalah agama yang menempatkan amal saleh atau etos kerja sebagai bagian terpenting dari totalitas ajaran Islam. Banyak ayat al-Qur’an yang menggandengkan ungkapan orang-orang beriman dengan amal shaleh ( و عملواالصالحات  الذين امنوا)

Ini berarti etos kerja merupakan amal shaleh. Dengan kata lain amal shaleh dalam pandangan Islam pada hakekatnya bukan saja ibadah mahdah atau ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Namun amal shaleh atau ibadah menurut Ibn Taimiyah adalah meliputi semua aktivitas yang dilakukan dengan niat atau motivasi untuk meraih redha Allah. Dengan demikian kerja apapun yang dilakukan seorang muslim yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya adalah kerja ibadah atau amal shaleh. Aktivitas bekerja mencari nafkah, merupakan sarana untuk meningkatkan amal shaleh yang bersifat sosial sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat pada umumnya. Karena harta yang diperoleh dalam bekerja yang halal dapat dimanfaatkan untuk bersedekah, zakat dan infak serta aktivitas sosial lainnya. Harta yang sedemikian itu secara psikologis akan memberikan kebahagiaan bukan saja di akherat namun juga dapat memberikan rasa bahagia bagi pemiliknya di dunia. Sebab kebahagiaan yang dirasakan orang-orang yang dibantunya akan memantul pula ke dalam lubuk hati si pemilik harta.

Hal itu sejalan dengan perintah Allah agar kita tidak hanya mampu meraih kebahagiaan hidup di akherat saja, namun sedapat mungkin juga kita dapat meraih kebahagiaan hidup di dunia ini, seperti dijelaskan dalam QS al-Qashash: 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
‘Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) akherat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguh-nya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’

Ma’asyiral muslimin rh.

Ayat di atas menunjukkan bahwa Islam mengajarkan prinsip hidup keseimbangan antara upaya meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akherat, antara ibadah ritual dan ibadah sosial, antara iman dan amal shaleh, antara zikir, dan fikir.

Kerja keras dalam bidang apa pun sesuai dengan keterampilan tiap-tiap orang adalah kunci sukses dalam hidup ini. Islam sangat mencela orang yang bersifat malas dan masa bodoh. Khalifah Umar pernah menegur seorang sahabat yang selalu berdoa namun tidak mau bekerja, bahwa “janganlah seorang dari kalian duduk dan malas mencari rezeki padahal dia mengetahui langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.”

Begitu pula sayidina Ali pernah menegaskan “Tuhan tidak akan pernah menurunkan Tangan bantuan-Nya kepada kami sebelum Dia melihat kami bersusah payah dalam mujahadah (berjuang).” Makna mujahada di sini bukan hanya kerja-kerja fisik, tetapi juga kerja spiritual dan intelektual. Karenanya, pengertian doapun bukan hanya olah batin, melainkan juga olah otot dan olah nalar. Jelasnya, doa adalah gabungan antara ikhtiar, usaha dan tawakal seorang hamba dalam memaknai titian takdirnya. Sebab, setiap kerja yang baik akan selalu menjadi doa yang tulus, dan setiap doa yang tulus akan selalu menjadi kerja yang baik bagi manusia.

Meskipun bekerja mencari harta sangat penting dalam ajaran Islam, namun demikian umat Islam tidak boleh menghalalkan segala macam cara untuk men-dapatkan kebutuhan hidupnya. Islam merupakan agama yang sarat dengan nilai etika dan norma atau akhlak, sehingga dalam bekerja pun, umat Islam harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral. Etika kerja Islami adalah mencari harta dilakukan dengan cara-cara yang benar, tanpa melanggar ketentuan syariat, dan diniatkan untuk meraih kebajikan serta dimanfaatkan untuk kebaikan pula.

Ma’asyiral muslimin rh, pelaksana ibadah jumat yang berbahagia.

Kerja yang Islami adalah bekerja untuk mencari rezeki yang halal dan diinfakkan pada jalan yang halal pula sehingga harta tersebut dapat menjadi wasilah untuk meraih kebahagian hidup dunia dan akherat. Sebaliknya, kerja tidak Islami, adalah bekerja mencari rezeki dengan cara yang melanggar ketentuan syariat (cara-cara yang haram) dan biasanya dihambur-hamburkan untuk kegiatan yang haram pula. Dalam realitas kehidupan banyak orang kaya dari uang panas biasanya digunakan untuk judi, mabuk-mabukan dan kemaksiatan lainnya. Sehingga orang tersebut sepintas tampak hidup bahagia, namun yang bersangkutan justru merasa hidup menderita, dan pelariannya bukan beribadah dan berzikir mengingat Allah, namun lari kepada miras dan narkoba. Harta yang diperoleh dengan cara-cara yang haram akan menjadi sumber penderitaan di dunia dan akherat.

Ma’asyiral muslimin rh.

Sebagai tuntunan dalam bekerja mencari rezeki, Nabi saw memberikan arahan dalam sebuah sabdanya: “sesungguhnya Jibril meniupkan ke dalam hatiku bahwanya jiwa itu tidaklah mati hingga dilengkapi rezekinya. Maka, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan berlaku baiklah dalam mencari rezeki. Janganlah karena keterlambatan rezeki itu menjadikan kalian mencarinya dengan melakukan maksiat kepada Allah. Sesungguhnya tidak akan dicapai apa yang terdapat di sisi Allah, melainkan taat kepada-Nya (HR Hakim).

Untuk kondisi saat ini pedagang yang menghalalkan cara akan menimbun barang untuk dijual pada saat harga barang naik seiring dengan rencana kenaikan harga BBM. Bahkan meskipun kenaikan harga BBM masih ditunda, namun para pedagang sudah ramai-ramai menaikkan harga barang dagangannya. Menaikan harga barang dagangan sebenarnya adalah wajar sesuai mekanisme pasar, namun menjadi tidak wajar bagi pedagang yang menimbun barang untuk dijual pada saat harga barang naik, yang dikenal dengan ihtikar dalam Islam. Tindakan menimbun barang yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat seperti sembako, dan BBM merupakan perbuatan haram karena sangat merugikan masyarakat. Penimbunan barang untuk mendapatkan keuntungan besar sama artinya bersenang-senang di atas penderitaan orang banyak.

Ma’asyiral muslimin rh, jamaah jumat yang berbahagia

Dalam setiap kerja disyaratkan (1) kita tidak merugikan orang lain, (2) saling meredlai, saling memberi manfaat, (3) dilakukan bukan secara haram, (4) tidak mengandung unsur penipuan, (5) saling meningkatkan kesejahteraan, dan (6) tidak merusak lingkungan kerja serta tidak maksiat kepada Allah.

Di samping itu etos kerja Islami juga tidak terlepas dari 3 hal, yaitu niat, cara dan tujuan. Dalam Islam kita dianjurkan untuk mengerjakan sesuatu dengan niat untuk mendapatkan redla Allah. Dengan niat seperti itu, berarti kita telah memberi makna yang lebih tinggi dan mendalam kepada pekerjaan kita. Suatu pekerjaan yang dilakukan tanpa tujuan luhur, untuk memperoleh redla Allah bagaikan bayang-bayang yang hampa tanpa wujud, tidak punya nilai substansial apa-apa. Firman Allah dalam QS an-Nur: 39
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

‘Orang-orang kafir itu, amal perbuatannya bagaikan fatamorgana di lembah padang pasir. Orang yang kehausan mengiranya air, namun ketika didatangi, ia tidak mendapatkannya sebagai sesuatu apapun.’

Ma’asyiral muslimin rh

Dengan niat yang ditujukan kepada Allah, kita tidak akan melakukan pekerjaan kita secara asal-asalan, namun dilakukan secara sungguh-sungguh dan teliti karena kita bertanggungjawab kepada-Nya. Dengan demikian etos kerja mengandung makna ganda, yakni sebagai sarana ibadah kepada Allah dan sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Dalam kaitan ini etos kerja merupakan manifestasi keyakinan seorang muslim bahwa kerja memiliki kaitan dengan tujuan hidup yaitu memperoleh keredhaan Allah. Dengan kata, etos kerja dalam Islam adalah cara pandang yang diyakini seorang muslim bahwa bekerja bukan hanya memuliakan dirinya sendiri, atau mewujudkan kemanusiaannya, melainkan sebagai manifestasi amal saleh (karya produktif) yang karenanya memiliki nilai ibadah yang sangat luhur.

Penghargaan hasil kerja dalam Islam, kurang lebih setara dengan iman, bahkan bekerja dapat dijadikan jaminan atas ampunan dosa seperti sabda Nabi saw:





“Barangsiapa yang di waktu sorenya  merasakan kelelahan karena bekerja, bekerja dengan tangannya sendiri maka di sorenya itulah diampuni dosa-dosanya.”

Ma’asyiral muslimin rahima kumullah

Mencari nafkah yang halal untuk memenuhi kebutuhan hidup bukan hanya bernilai ibadah, melainkan merupakan bagian dari kewajiban keagamaan sehingga orang-orang yang enggan dan malas mencari nafkah berakibat menelantarkan orang-orang yang berada dalam tanggungan serta berdosa. Jelasnya, suami wajib bekerja untuk memenuhi nafkah anak istrinya secara layak sesuai perintah Allah dalam QS al-Baqarah: 233                      
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ 
Kewajiban bagi seorang ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang layak.’
Demikianlah semoga khutbah ini dapat menuntun kita dalam bekerja secara islami, sehingga kerja kita menjadi amal shaleh, sehingga kita dapat lolos dari 2 pertanyaan malaikat tentang harta yang kita miliki, yakni fi ayna iktasabahu, dari mana diperoleh, wa fi aina anfaqahu, dan digunakan untuk apa. Semoga kerja kita  senantiasa mendapat keberkahan dari Allah, amin ya Rabbal ‘alamin.



                        

                       
Materi khutbah ini bersumber dari beberapa referensi al:
Etos Kerja Islami: KH Toto Tasmara, dll.



                                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar