Jika tidak sanggup membahagiakan orang lain, maka minimal tak menyakitinya

Total Tayangan Halaman

Kamis, 19 Desember 2013

Urgensi Zakat



URGENSI ZAKAT



Ma’syiral muslimin rahimakumullah.
Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas karunia iman, kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat melaksanakan salat jumat di masjid yang mubarak ini. Semoga salawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi akhirul zaman, Muhammad Rasulullah saw yang telah berjuang tanpa pamrih mengantarkan manusia ke jalan yang benar dengan iman, islam dan ihsan.
Marilah dalam hidup ini kita selalu berusaha untuk bertakwa kepada Allah sekuat kemampuan kita dalam mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Ma’syiral muslimin rahima kumullah
Menurut al-Qur’an manusia memiliki dua potensi yang saling berlawanan serta berpengaruh terhadap kualitas keimanan seseorang, seperti diungkapkan dalam QS al-Syams: 8-10

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَاوَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا   
‘Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung-lah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.’
Potensi takwa atau potensi kebaikan didukung oleh daya qalbu dan potensi buruk didukung oleh daya nafsu. Daya qalbu bersumber dari Ruh Ilahi sedangkan daya nafsu bersumber anasir tanah.
Potensi takwa didukung oleh malaikat sedangkan potensi buruk didukung oleh setan. Menurut Muhammad Abduh bahwa setiap orang dapat merasakan adanya dua macam bisikan dalam jiwanya, bisikan baik dan bisikan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antara keduanya. Yang membisikkan kebaikan adalah malaikat, sedangkan yang membisikkan perbuatan dosa adalah setan. Atau setidaknya penyebab adanya bisikan itu adalah malaikat dan setan. Puasa Ramadan pada hakekatnya bertujuan untuk mengendalikan potensi keburukan dan melawan tipu daya setan, sekaligus memaksimal-kan potensi kebaikan dan bisikan malaikat ke dalam jiwa manusia.
Ma’syiral muslim rahimakumullah.
Puasa juga bertujuan mendidik kedisiplinan dan kesabaran kita. Sebab puasa membutuhkan kedisiplinan dan kesabaran yang tinggi. Karena itulah yang menjadi rukun puasa adalah meninggalkan makan, minum dan hubungan suami istri yang ketiganya itu merupakan kebutuhan pokok manusia. Godaan bagi orang yang berpuasa juga sangat besar. Sehingga tanpa kedisiplinan orang akan mudah tergoda untuk membatalkan puasanya sendiri. Karena itu Nabi saw bersabda: al-shiyam nisfu al-sabr (‘puasa itu separuh dari kesabaran).
  Artinya, separuh sabar dapat diperoleh melalui puasa, sedangkan separuh sabar yang lain dapat dilatih dari ibadah-ibadah selain puasa. Hidup ini adalah perjuangan dan perjuangan membutuhkan pengorbanan. Pengorban mencapai cita-cita sangat membutuhkan kesabaran. Kesabaran dibutuhkan dalam semua aspek kehidupan manusia, baik sabar dalam melakukan kebaikan, sabar menghindari kejahatan maupun sabar dalam menghadapi ujian.
Ma’syiral muslimin rahimakumullah
Kesemuanya itu akan mengantarkan terwujudnya tujuan utama puasa, yaitu mendidik sikap hidup orang bertakwa. Menurut Rasulullah saw orang yang berpuasa itu karena kecintaan dan keikhlasannya kepada Allah. Sehingga apapun yang diperintahkan Allah kepadanya, dia akan melaksanakannya dengan senang hati.
Takwa berarti wiqayah  atau melindungi diri dan menjauhi dari siksaan Allah. Bertakwa kepada Allah berarti mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhkan diri dari segala apa yang dilarang-Nya. Jika seseorang telah memasukkan nilai-nilai ketakwaan dalam dirinya dengan mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, maka dia telah berlindung dari murka Allah berupa azab neraka.
Itu berarti puasa mendidik orang mampu merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupannya. Orang yang berpuasa karena dorongan iman, tidak akan mau membatalkan puasanya walaupun merasa sangat kehausan di tengah panasnya matahari dan pada saat yang sama ada peluang untuk makan, minum serta tidak dilihat orang lain. Namun dia sadar, bahwa walaupun tidak ada orang lain yang melihatnya, namun Allah melihat perbuatannya itu. Kesadaran tersebut akan mewarnai hidupnya sehingga dia tidak tega melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, orang lain dan masyarakat luas. Sebaliknya puasa mengajarkan manusia untuk merasakan penderitaan orang-orang miskin, atau penderitaan orang lain yang lebih susah dari dirinya serta menolong kesusahan orang lain sesuai dengan kemampuannya.
Karena itu Allah mewajibkan kepada orang Islam yang memiliki harta yang telah cukup nishab dan haul setahun untuk mengeluarkan zakat harta, di samping zakat fitrah yang menjadi kewajiban setiap muslim menjelang idul fitri. Harta yang belum cukup nishabpun, akan lebih memiliki keberkahan jika dikeluarkan sebagian dalam bentuk sedekah atau infaq.
Mengeluarkan zakat, dan sedekah memang terkadang terasa berat karena ada dua penyakit yang menjakiti hati manusia berkaitan dengan harta, yakni bersifat serakah saat mengumpulkan harta, sehingga jika ybs tidak mampu mengendalikan diri akan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan harta sebanyak mungkin. Islam sangat menghargai kekayaan namun Islam mencela kekayaan yang diperoleh dengan cara yang bertentangan dengan syariat atau merugikan orang lain. Penyakit kedua berkaitan dengan harta adalah sifat kikir, pelit membelanjakan harta di jalan Allah. Dalam realitas banyak terjadi, orang rela menghambur-hamburkan hartanya untuk pesta-pesta namun sangat berat hatinya mengeluarkan zakat atau sedekah dari hartanya.
Padahal harta yang dikeluarkan di jalan Allah baik zakat maupun sedekah pada dasarnya tidak akan mengurangi jumlah harta yang dimiliki namun justru akan semakin menyuburkan hartanya. Allah yang Maha Kaya akan melipatkan gandakan jumlah harta yang dimanfaatkan untuk berbagai kebajikan hingga 700 kali lipat, sesuai janjinya dalam QS al-Baqarah: 261
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ
 ‘Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah sama dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai tumbuh 100 biji. Allah melipat gandakan (balasan) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.’
Ayat ini seharusnya menjadi sumber inspirasi bagi kita untuk selalu bersemangat mencari harta dengan tujuan untuk dinafkahkan di jalan Allah. Keyakinan semacam itu telah mendorong Abu Bakar as Sidiq rela menyumbangkan seluruh hartanya untuk keperluan jihad. Karena Abu Bakar yakin Allah yang Maha Kaya tidak akan membiarkan keluarganya dalam kemiskinan. Realitas juga menunjukkan, bahwa tidak ada orang kaya jatuh miskin karena dermawan namun yang sering terjadi adalah orang kaya jatuh miskin karena pelit, enggan membayar zakat hartanya dan memberi sedekah kepada orang yang kesulitan.
Ma’asyiral muslim rahima kumullah. Pelaksana ibadah Jumat yang berbahagia.
Balasan yang disediakan Allah kepada orang yang mengeluarkan zakat atau sedekah minimal 10 kali lipat. Sebab itu semakin banyak sedekah yang diberikan maka akan semakin banyak pula balasan yang diperoleh. Balasan Allah dalam kaitan ini ada dua, balasan dalam bentuk harta yang semakin bertambah dan pahala yang akan dinikmati di akherat. Untuk memperoleh kemurahan Allah tersebut, ke-ikhlasan saat mengeluarkan zakat disertai keyakinan kepada janji Allah sangatlah penting.
Selain itu harta yang dizakat atau disedekahkan haruslah harta yang halal, dan bukan harta yang diperoleh secara haram. Sebab menurut hadis Nabi saw: innallaha la yaqbalu sadaqatan min gulul (sesungguhnya Allah tidak akan menerima sedekah dari harta yang haram). Hal ini sejalan dengan makna zakat sebagai pembersih harta dari kemungkinan bercampur dengan hak-hak orang lain. Namun harta yang diperoleh secara haram mustahil bisa dibersihkan dengan zakat atau sedekah. Ibarat orang mandi, tujuannya adalah untuk membersihkan badannya, namun jika dia mandi dengan air selokan, maka badannya tidak akan bersih tapi justru akan semakin kotor.
Ma’asyiral muslimin rh.
Kita harus yakin bahwa Allah tidak akan mengurangi harta yang telah dizakatkan atau disedekahkan, malah Allah akan memberi lebih:
 وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ  
‘Dan apa saja harta halal dan baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dirugikan.’ (QS al-Baqarah: 272)
Balasan Allah itu sangat luas. Sedekah sebenarnya merupakan salah satu cara untuk menghindarkan manusia dari penyakit atau bala. Kedermawanan mendekatkan hati manusia, men-dekatkan kepada kebaikan dan mendekatkan kepada surga. Sedangkan kebakhilan menjauh-kan hati manusia, dekat kepada keburukan dan dekat kepada neraka.
Secara psikologis sebenarnya hati nurani manusia cinta kepada kebaikan dan merasa bahagia jika bisa membantu dan membahagiakan orang lain, baik melalui zakat maupun sedekah. Sebaliknya, jiwa manusia benci kepada keburukan dan merasa susah jika menahan hak orang lain lantaran enggan membayar zakat atau memberi sedekah. Namun hati nurani yang bersumber dari Ruh Ilahi itu bisa berubah menjadi gelap sehingga tidak bisa mengarahkan yang bersangkutan kepada kebaikan.
Dengan demikian puasa Ramadan ini merupakan latihan rohani dalam membangun ketangguhan pribadi, mengendalikan dorongan dari dalam, ketika suatu keinginan berubah menjadi sebuah tindakan agar menghasilkan suatu pemikiran dan langkah yang konsisten sesuai dengan suara hati yang bijaksana. Sedangkan prinsip zakat adalah memberi. Memberi kepada lingkungan sosial. Zakat merupakan suatu kehendak dasar dari hati nurani manusia. Puasa Ramadan dan zakat serta sedekah sama-sama sebagai upaya meneladani sifat Allah yang Maha Pemurah.
Zakat juga merupakan sarana membangun kesatuan dan persatuan umat. Orang-orang yang kurang mampu di kalangan kita yang mendapat zakat dan sedekah dengan sendirinya akan terhindar dari bujuk rayu pihak lain dengan iming-iming materi untuk memalingkan mereka kepada keyakinan agama lain. Sayidina Ali pernah mengingatkan kadal faqru an yakunal kufra (kemuskinan itu terkadang bisa menjerumuskan seseorang kepada kekufuran). Karena itu orang-orang Islam yang memiliki kelebihan harta berkewajiban menyelamatkan keyakinan saudara-saudara kita yang berkekurangan dengan cara membantu kesulitan ekonomi mereka.
Ini berarti zakat dan sedekah  dapat dimanfaat-kan untuk banyak hal yang bermanfaat untuk kepentingan umat baik dalam jangka pendek (untuk memenuhi kebutuhan makanan orang miskin maupun jangka panjang melalui pemberdayaan ekonomi mereka agar mereka dapat meningkatkan taraf hidupnya dan mampu memberi zakat dan sedekah kepada orang lain.
Demikianlah semoga khutbah jumat ini dapat bermanfaat bagi kita dalam menata kehidupan yang lebih baik, amin ya Rabbal ‘alamin.




                        
                       
Materi khutbah ini berasal dari beberapa referensi al:
- Wawasan al-Qur'an: M. Quraish Shihab
- Kepribadian dalam Psikologi Islam: Abdul Mujib
- dll



Catatan Tambahan:

Bagi yang berminat mendalami, mengkaji, meneliti atau mengadvokasi korban KDRT khususnya problematika Perlindungan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga Perspektif Hukum Pidana Indonesia dan Hukum Islam dapat membaca buku saya yang berjudul PROTECTION OF THE RIGHTS OF DOMESTIC VIOLENCE VICTIMS: In Indonesia Criminal Law and Islamic Law yang diterbitkan oleh LAP- Lambert Academic Publishing Jerman. Buku tersebut dapat dibeli toko buku online mitra Penerbit Lambert Academic Publishing Jerman dengan harga standar 74,90 Euro. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada laman berikut ini: http://www.morebooks.de/store/bookprice_offer/show?token=58128ac02eb5828663bd59fe736ca2a9941d106a&auth_token=d3d3LmxhcC1wdWJsaXNoaW5nLmNvbToyZWQxNTcyMDM5M2YwMDMzYzhkYjE2MjFiYmJjYjQ3Zg==&locale=gb
                                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar